FOKUS

Ahmad Romzi: Kesalehan di Tengah Covid-19 Nggak Cuma Soal Individu!

JAKARTA (tandaseru) – Pandemi Covid-19 memberi banyak pembelajaran. Pada talkshow tema “Kesalehan Sosial di Tengah Covid” Ahmad Romzi bicara soal kesalehan sosial dan spiritual experience!

Ramadan di tahun ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena semua orang di dunia menjalani ibadah Ramadannya di tengah pandemi Covid-19.

Narasumber utama kali ini, Ahmad Romzi, Founder Muslim Milenial dan Wakil Ketua Umum Siberkreasi berbicara tentang kesalehan sosial sekaligus pengalaman spiritual (spiritual experience) yang bisa didapatkan di tengah pandemi.

Ahmad Romzi mengungkapkan meningkatkan kualitas ibadah bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga ibadahnya dengan sesama.

“Kebetulan ada covid ini juga, jadi membuat kita sadar kalau kebaikan dalam agama itu gak cuma ibadah tapi juga memperbanyak membantu sesama,” kata Ahmad Romzi dalam talkshow live di Heartline 100.6 Fm Karawaci, Senin (11/5).

Memang bentuk kesalehan itu tak sekadar ditandai dari ritual keagamaan, tapi juga ditandai dari seseorang bersikap dan menggambarkan dirinya di hadapan orang lain.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “bahwa sesungguhnya saya diutus untuk memperbaiki perilaku”

Maka, jika yang dimaksud akhlak itu adalah perkataan dan perilaku, artinya agama adalah tentang akhlak manusia.

“Ada banyak ulama yang bilang, lebih dari separuh urusan agama itu bukan urusan ritual tapi urusan akhlak,” jelas Ahmad

Jadi penting sekali memahami bahwa kesalehan seseorang itu tak cuma untuk individunya saja, tapi juga harus ada kesalehan sosial untuk orang lain di sekitarnya

Cara menyeimbangkan kesalehan sosial dan individual!

Seharusnya antara kesalehan sosial dan individu memang bisa saling mendukung. Pasalnya, semua perbuatan atau ibadah yang bertujuan untuk keagamaan seharusnya membawa seseorang terhindar dari melakukan hal buruk atau keburukan dari orang lain.

“Dimensi agama itu ada 3 hal yang harus dijaga, atau bisa dibilang maqashid syariah atau tujuan dari syariah, yaitu menjaga harta, menjaga agama, dan menjaga jiwa” tutur Ahmad

Dalam beragama dan menjalankan syariat tak boleh manusia itu hanya menjaga agama, tapi juga jiwa baik itu jiwa dan harta diri sendiri, atau jiwa dan harta orang lain.

“Misalnya saat ini dalam keadaan covid, kita perlu menjaga agama dengan terus beribadah shalat jumat, shalat tarawih di masjid, tapi hal itu tak boleh bertabrakan dengan menjaga jiwa.” Sambungnya

Dengan sesorang yang memaksakan diri untuk tak mau kehilangan agamanya dan pergi ke masjid, maka itu sudah tak menjaga jiwa baik diri sendiri atau orang lain, karena hal itu bisa berpotensi menularkan Covid-19 atau tertular oleh Covid-19.

“Maka dalam hukum syariatnya, kita tak boleh terlalu mengedepankan menjaga agama saja, padahal agama dalam syariatnya ada pula menjaga jiwa.” tambahnya

Menjaga jiwa ini merupakan kesalehan sosial yang kadang orang lupa, bahwa agama bukan hanya tentang ibadah yang sudah ada tuntunannya, tapi juga ada ibadah yang mungkin belum ada contohnya atau tidak ada dalam ayat atau hadist padahal itu adalah ibadah.

“Contoh live streaming, mungkin Nabi tak memerlukan itu, tapi kita ini juga sedang melakukan kebaikan yang bernilai ibadah, bermanfaat bagi banyak orang.” tuturnya

Covid-19 ini membawa spiritual experience!

Momen pandemi Covid-19 ini bisa dimanfaatkan, untuk mendapat spiritual experience. Biasanya seseorang memang punya spiritual experience nya masing-masing, dan itu akan memengaruhi keberagamaannya.

“Kalo dalam kajian psikologi agama, disebut konfersi agama. Dalam satu agama bisa mengkonfersi agama, misal semakin dalam keimanannya semakin tinggi kualitas ibadahnya berarti ada konfersi dalam beragama dia, dan itu membutuhkan spiritual experience” jelas Ahmad

Ada yang menemukan spiritual experience saat kecelakaan lalu menyadari arti hidup, ada pula yang saat anaknya lahir menemukan keindahan di situ, dan Covid-19 ini mungkin bisa jadi momen mendapat spiritual experience tersebut.

“Kalau ternyata kita biasanya mengekspresikan agama secara kolektif, ini mungkin maksud Tuhan meminta kita agar bisa berdua doang dengan-Nya dan ini mungkin momen untuk mempunyai waktu khusus dengan Tuhan.” tambahnya

Pasalnya, bisa jadi Tuhan menjadikan Covid-19 hadir di Ramadan kali ini, untuk menciptakan spiritual experience pada semua orang terutama anak muda di dunia.

“Ekspresi beragama yang kolektif itu jadi bisa lebih private saat ini, sehingga kita punya waktu khusus dengan Tuhan dan bisa meningkatkan kualitas keimanan kita, meningkatnya kualitas keimanan seseorang akan meningkatkan juga kualitas keimanan sosialnya.” Tutup Ahmad.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait