FOKUS

Alasan Kapolri Cabut Telegram Pelarangan Peliputan Aksis Kekerasan Polisi, Mabes Polri: Banyak Tafsir Berbeda

JAKARTA (tandaseru.id) – Mabes Polri membeberkan alasan mengapa Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mencabut telegram yang berisikan 11 poin yang salah satunya adalah pelarangan media meliput aksi arogansi dan kekerasan yang dilakukan anggota Polri.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono menyebu alasan pencabutan instruksi itu karena banyaknya penafsiran-penafsiran berbeda prihal hal ini.

“Direvisi adalah ketika banyak muncul penafsiran di luar Polri terhadap STR 750,” kata Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (6/4).

Rusdi menyebut Polri mengamati respon-respon yang hadir pasca dikeluarkannya instruksi tersebut. Polri sendiri disebutnya merespon apa yang menjadi tanggapan dari publik terkait hal ini.

Atas dasar itu lah Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo akhirnya mengeluarkan instruksi baru yang isinya membatalkan instruksi yang pertama.

“Oleh karena itu pimpinan mengeluarkan kebijakan dengan memunculkan STR 759 yang menyatakan bahwa STR 750 dibatalkan,” beber Rusdi.

Seperti diketahui, Kapolri sebelumnya mengeluarkan instruksi yang tertuang dalam surat telegram rahasia berisi peliputan awak media. Dalam instruksi itu, Kapolri melarang adanya penyiaran mengenai polisi yang arogan.

Pasca menjadi perbincangan banyak pihak, Kapolri kembali mengeluarkan instruksi dalam surat telegeram lanjutan. Isinya Kapolri mencabut atau membatalkan instruksinya yang pertama berkaitan dengan peliputan media.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com