FOKUS

Depresi Mental akibat Covid-19 Lebih Berbahaya Daripada Depresi Ekonomi, Kita Harus Bagaimana?

Nasional Is Me:

JAKARTA (tandaseru) – Sejak tahun 2015, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah memprediksi, mulai tahun 2020 akan terjadi gelombang depresi mental di seluruh dunia. Pandemi Covid-19 membuat prediksi tersebut bakal menjadi kenyataan.

Depresi ekonomi bukanlah krisis yang paling berbahaya, melainkan depresi mentalah. Depresi mental adalah penyebab utama gangguan jiwa di seluruh dunia.

Jika tidak ditangani, depresi mental dapat mendorong penyalahgunaan obat, kecemasan, bahkan bunuh diri. Lalu bagaimana sikap masyarakat menghadapi kondisi ini?

Hal itu dibahas dalam Talkshow Nasional Is Me Goes to Campus yang diadakan oleh Bentang Merah Putih dan komunitas Nasionalisme Radikal (NaKal) disiarkan secara live di Radio Persada dan Heartline 100.6 FM Karawaci dengan tema “Nilai Kekuatan Dalam Kebersamaan”. Narasumber utama acara ini,  yaitu Samantha Ananta Psi selaku psikolog dan Darius Sinathrya selaku publik figur.

Samantha mengatakan, secara psikologi krisis paling berbahaya bukanlah krisis keuangan melainkan krisis depresi mental. Krisis depresi mental kali Ini, menurut dia,  sama halnya ketika tahun 1940-an saat terjadi Perang Dunia II. Efek depresinya sudah muncul sejak Mei 2020 saat sektor ekonomi melambat dan terjadi PHK di berbagai perusahaan.

“Sehingga kita perlu untuk mewaspadai krisis depresi mental selain krisis finansial itu sendiri. Untungnya di Indonesia kita semua mengenal istilah gotong royong serta cenderung terbuka dengan keluarga untuk bercerita sehingga ada proses katarsis di sana untuk melepas emosi yang dimiliki. “Karena itu potensi depresi masyarakat kita kecil,” ujar Samantha.

Darius menambahkan, masyarakat Indonesia juga memiliki karakter survival yang kuat dan cenderung santai dalam menyikapi masalah, ini salah satu problem solving alami yang dimiliki. Meskipun orang Indonesia suka santai dan menikmati hidup namun tetap melahirkan orang-orang hebat yang mencetak prestasinya di kancah global.

“Kita mengalami hal yang sama namun menyikapinya dengan cara yang berbeda, jadi hal terpenting saat ini adalah Melindungi keluarga kita dengan cara menjaga kesehatan dari penyebaran Covid-19 serta kemungkinan depresi itu sendiri, ,” pungkasnya.

Kesimpulanya, lanjut Darius,  adalah kebersamaan itu adalah kunci untuk menghadapi kondisi ini, seperti filosofi sapu lidi, jika kita sendiri-sendiri maka akan mudah patah “Namun jika kita bersama-sama, kita akan menjadi kuat untuk menghadapi semua masalah yang kita alami.”

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait