FOKUS

Dua Aktivis Papua Telah Ditahan soal Kasus Penganiayaan, Satu Tersangka Masih Diburu

JAKARTA (tandaseru.id) – Polda Metro Jaya telah menahan dua aktivis Papua bernama Roland Levy dan Kelvin Molama terkait kasus dugaan penganiayaan di depan Gedung MPR/DPR RI pada Januari 2021 lalu.

“Kejadian cukup lama, Januari lalu kemudian sempet viral adanya pemukulan beberapa orang pada saat itu, adanya di depan gedung MPR/DPR kemudian dilaporkan itu bulan Januari,” ucap Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus di Markas Polda Metro Jaya, Kamis 4 Maret 2021.

Laporan dugaan penganiayaan dibuat oleh Rajut Patiray. Lantas, polisi melakukan penyelidikan. Dimana, dalam perjalanan polisi memeriksa bukti video pemukulan yang beredar serta bukti visum. Hasilnya, polisi menetapkan tiga tersangka.

“Hasil pengembangan penyidik menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Dua sudah kita tahan, satu ini masih kita kejar,” kata dia.

Lebih lanjut Yusri mengatakan, ketiga tersangka disangkakan Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan dan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan.

Ketiganya dikenakan Pasal 365 KUHP lantaran saat kejadian mereka sempat mengambil ponsel milik korban. Polisi sendiri telah mengantongi identitas tersangka buron. Hingga kini, pengejaran masih dilakukan.

“Saat dipukul, korban sempat diambil tasnya dan direbut hanpdphone milik korban. Sekarang kita masih cari bararang bukti handphone dan sekarang sedang berproses oleh Krimum PMJ,” katanya lagi.

Sebelumnya diberitakan, Polda Metro Jaya disebut mencokok dua aktivis Papua yakni Roland Levy dan Kelvin Molama terkait kasus dugaan penganiayaan. Keduanya disebut dicokok Rabu (3/2) pagi sekitar pukul 05.00 WIB dan pukul 06.00 WIB.

“Atas dugaan penganiayaan terhadap saudara sesama Papua juga, saudara Rajut Patiray. Jadi mereka ditangkap atas penganiayaan kepada Rajut Patiray,” ucap Kuasa Hukum Aliansi Mahasiswa Papua Jabodetabek, Michael Hilman di Markas Polda Metro Jaya, Rabu (3/2).

Dia mengklaim aparat kepolisian tidak menunjukan surat perintah penangkapan saat itu. Sesuai aturan, kata dia polisi harusnya menunjukan surat proses penangkapan saat itu. Menurutnya, kedua tersangka tidak mengenal korban yang disebut dianiaya keduanya.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com