FOKUS

Era Globalisasi, Indonesia Berpeluang Kembangkan Pop Culture

JAKARTA (tandaseru) – Seringkali kita tidak sadar bahwa budaya-budaya yang selama ini kita praktekan telah menguasai kesadaran kita. Tak dipungkiri, kini milenial menjadi pengkonsumsi terbesar budaya populer atau pop-culture.

Manusia modern tengah digiring kepada gaya hidup yang seRba baru atau kekinian, yakni serba populer sebagai bentuk ideal.

Tak hanya gemar memamerkan kehidupan sehari-hari di media sosial, namun pop-culture juga berpengaruh tehadap cara berpakaian, musik, cara pandang hidup, bahkan penggunaan bahasa gaul demi sebuah pengakuan.

Secara teori budaya populer atau pop-culture adalah budaya yang paling banyak dinikmati masyarakat saat ini.

“Menurut saya, budaya populer memiliki kecenderungan yang menjadi panutan bagi orang-orang, khususnya milenial yang sangat mudah mengaksesnya lewat internet,” jelas Irman Meilandi dalam talkshow Ngupi Darurat.

Di era globalisasi saat ini, dunia dipersempit oleh kemudahan untuk mengakses informasi dari budaya yang satu ke budaya yang lainnya.

Adanya kiblat baru tentang popularitas sebagai bentuk ideal yang dibawa oleh artis atau brand-brand baru mengakibatkan adanya tindakan meniru sesuatu yang baru tersebut.

“Seperti kita ketahui, Korea Selatan sukses mengembangkan budaya pop-nya melalui fashion, drama korea, hingga kuliner sehingga menghasilkan ekonomi kreatif yang luar biasa yang berdistribusi besar untuk devisa negara,” tutur Irman.

Budaya populer ini memang memikat, karena konsepnya ringan, menarik dan menyenangkan, sehingga mudah diterima masyarakat.

“Melihat sisi positif pop-culture seperti belum lama ini “Lathi” yang popler hingga ke mancanegara, mereka bisa menyisipkan budaya lokal Indonesia di dalamnya,” jelas Bambang Reguna Bukit atau akrab disapa Bams.

“Hal ini bisa jadi alternatif, kita bisa memadukan sesuatu yang happening atau kekinian seraya menyisipkan kebudayaan Indonesia agar mudah dimengerti dan diterima milenial,” tambahnya.

Indonesia berpeluang kembangkan pop-culture

Perubahan zaman ibarat keniscayaan yang sulit untuk dihindari. Tidak mungkin negara melakukan pelarangan budaya baru (pop culture) masuk ke Indonesia.

Dengan demikian, peran pemerintah juga diperlukan untuk mengatasi ancaman krisis identitas bangsa. Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi bangsa pengkonsumsi budaya populer atau Pop Culture dunia saja.

Mengingat, Indonesia sendiri merupakan negara yang kaya sumber daya alamnya, dan keberagaman budayanya.

“Jika dilihat, kehadiran pop-culture sangat merugikan Indonesia. Sadar atau tidak kita jadi konsumen terbesar dari industri pop -culture, sehingga kita jadi tidak mengenali bangsa kita sendiri yang jauh lebih beragam,” ujar Irman.

Bahkan, saat ini peluang pengembangan budaya populer Indonesia masih cukup besar dan diyakini bisa mengalahkan banyaknya budaya populer.

“Saya sangat setuju bahwa Indonesia memiliki keberagaman budaya. Oleh karena itu, tidak hanya batik, kita bisa cari sesuatu yang baru yang bisa kita angkat ke dunia,” jelas Bams.

Penggerak pop-culture di dunia memang berasal dari para pekerja kreatif. Dengan demikian, kesempatan ini sangat baik digunakan oleh kreator untuk menyaring ide lebih kreatif, sehingga menghasilkan produk yang menarik.

Talkshow Ngupi Darurat, merupakan sebuah program yang akan mengupas topik dari rumah tapi brasa dekat dengan tema “Pop Culture Vs Budaya Lokal” yang dibahas oleh Irman Meilandi, Bambang “Bams” Reguna Bukit, dn Lu’ul Nur Azizah.

Talkshow ini dipandu oleh Yohana Elizabeth dan Yosi Mokalu yang digelar secara live di Heartline 100.6 Fm Karawaci dan YouTube Heartline Network, Selasa (14/7).

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id