FOKUS

Fitnah Rektor Pakai Ijazah S3 Palsu, Dosen Universitas Negeri Manado Diciduk

JAKARTA (tandaseru) – Polisi menangkap dosen Universitas Negeri Manado berinisial DRS dan seorang aktivis berinisial FJR lantara membuat fitnah rektor universitas tersebut Julyeta Amalia dengan menyebarkan informasi bohong atau hoaks di akun Facebook DRS.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan fitnah yang dilakukan DRS yakni menyebut bahwa ijazah milik Julyeta adalah palsu.

“Ini pelapornya rektor langsung dari Julyeta Amalia, dia Rektor Universitas Negeri Manado yang melaporkan bahwa dia difitnah dan dicemarkan nama baiknya melalui medsos yang ada,” kata Yusri di Polda Metro Jaya, Selasa (18/2).

Kasus ini, kata Yusri, bermula pada 2016 lalu saat korban baru saja menjabat sebagai rektor di Universitas tersebut. Saat itu, kedua pelaku melakukan aksi demo di Jakarta mengatasnamakan LSM PAMI di Istana Negara, Ombudsman, serta Kemenristekdikti.

Dalam demo itu, keduanya berorasi bahwa ijazah S3 milik korban adalah palsu. Selain itu, tersangka juga mengunggah aksi demo itu ke dalam akun Facebook pribadi.

“Atas perbuatan tersangka berakibat banyaknya berita online maupun berita cetak yang menyebutkan ijazah milik korban adalah palsu, sehingga korban mengalami kerugian,” ucapnya.

Lantaran merasa dirugikan, korban pun membuat laporan ke kepolisian. Setelah dilakukan penyelidikan, polisi lantas meringkus kedua tersangka di Manado, Sulawesi Utara.

Selanjutnya, saat ini polisi masih mendalami motif kedua tersangka melakukan fitnah tersebut. Selain itu, polisi juga masih mengumpulkan barang bukti untuk mengungkap motif tersangka.

“Sampai dengan saat ini mereka masih tetap mengelak, tapi penyidik bukan berharap pengakuan dari tersangka tapi kita lengkapi bukti-bukti yang mengarah,” kata Yusri.

Tak hanya itu, lanjut Yusri, kepolisian juga masih menyelidiki apakah ada aktor intelktual di balik kasus ini serta pihak-pihak lain yang mungkin ikut terlibat.

Atas perbuataannya, kedua tersangka dijerat Pasal 310 KUHP dan atau Pasal 311 KUHP dan atau Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat 3 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi elektronik dan atau pasal 36 jo pasal 51 ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi elektronik, dengan ancaman hukuman 7 tujuh tahun penjara.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait