FOKUS

Gastrodiplomasi: Upaya Pengenalan Citra Diri Bangsa melalui Makanan

Berbicara tentang makanan dan masakan Indonesia tentu tak ada habisnya, aneka ragam bahan serta bumbu dari rempah-rempah pilihan menjadikan masakan kita salah satu yang terlezat di dunia. Namun lebih dari itu, makanan dapat mencerminkan citra diri bangsa dalam pergaulan internasional atau di kenal dengan istilah Gastrodiplomasi.

Makanan maupun masakan Indonesia tidak hanya terkait dengan kelezatan tetapi lebih dari itu, ada makna filosofis, sejarah dan budayanya atau dikenal dengan istilah gastronomi.

Jika kuliner lebih menekankan pada proses masak-memasak dan seni menikmati makanan, gastronomi mempelajari dimensi sejarah, filosofi, dan latar budaya dari makanan.

Kelindan gastronomi dengan promosi budaya tak terhindarkan dalam khasanah diplomasi, gastronomi dimasukkan ke dalam klaster diplomasi kebudayaan. Maka itu, dikenallah istilah gastrodiplomasi.

Lantas bagaimana meletakkan gastrodiplomasi itu dalam perspektif diplomasi kebudayaan?

Darmansjah Djumala
Darmansjah Djumala

Menurut Darmansjah, memposisikan gastrodiplomasi dengan pas dalam bingkai diplomasi kebudayaan akan memudahkan pengambil keputusan dalam mendesain strategi nasional untuk mempromosikan Indonesia ke luar negeri dengan menggunakan instrumen kuliner (masakan dan makanan) khas Indonesia.

Seorang pengamat gastrodiplomasi, Anna Lipscomb, dari The Yale Review of International Studies dalam penelitiannya berjudul Culinary Relations: Gastrodiplomacy in Thailand, South Korea, and Taiwan (2019), menyimpulkan bahwa setiap negara berupaya mengoneksikan makanan khasnya dengan ‘identitas nasional’ masing-masing (national identity).

Dari kesimpulan ini, jelas bahwa ternyata gastrodiplomasi tidak sebatas urusan perut dan makanan. Lebih luas dari itu, seperti digagas oleh pelopor gastrodiplomasi Paul Rockower, gastrodiplomasi ialah upaya membangun citra dan posisi suatu bangsa demi terciptanya ‘reputasi’ tertentu (nation brand) melalui makanan.

Pertama, nation brand yang lebih banyak terkait reputasi kasatmata suatu negara. Kedua, identitas nasional yang lebih merujuk kepada karakter bangsa, tradisi, budaya, dan bahasanya.

Austria, misalnya, dikenal dengan reputasinya sebagai ibu kota dunia untuk musik klasik, orkestra, dan salah satu markas PBB. Namun, dalam konteks national identity, Austria dikenal sebagai bangsa dengan budaya dan tradisi Eropa, berbahasa Jerman, bertalenta seni, dan demokratis.

Apa relevansi dua konsep citra bangsa itu dengan gastrodiplomasi?

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait