FOKUS

Hadapi Bencana Hidrometeorologi, Ini yang Dilakukan Jayapura dan Banyumas

BOGOR (tandaseru) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, 95% bencana didominasi oleh kelompok bencana hidrometeorologi (banjir, tanah longsor, puting beliung, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan).

Sementara itu, 5% disebabkan bencana geologi (gempa bumi dan tsunami). Lalu bagaimana dengan antisipasi dan mitigasi yang dilakukan di daerah?

Mathius Awoitauw Bupati Jayapura berbagi pengalaman penanganan pasca banjir bandang di Pegunungan Cylops dan Danau Sentani.

Banjir bandang yang terjadi pada 2019 menurut data yang dikeluarkan pemerintah Kabupaten Jayapura mengakibatkan 1.998 rumah rusak berat, 353 rumah rusak sedang dan 1.288 rumah rusak ringan serta menimbulkan 106 korban jiwa. Selain itu juga berdampak pada 6.278 warga yang mengungsi.

Mathius mengatakan, Pemkab Jayapura telah melakukan langkah-langkah pencegahan bencana banjir, banjir bandang dan longsor melalui pendekatan Mitigasi Vegetatif di kawasan Pegunungan Cyclops dan Danau Sentani.

“Melakukan mitigasi vegetatif dengan menanam berbai jenis tanaman dan pohon endemik dan ekonomis berupa Vanili, Trembesi, Jambu Mete, Rambutan, Mangga, Sagu, Masohi dan Vetiver,” kata Mathius saat seminar virtual pada rangkaian kegiatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana 2020 di Bogor.

Dia menambahkan jenis-jenis pohon tersebut mempunyai nilai ekonomis tinggi, sehingga selain untuk mengurangi dampak banjir juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Tanaman ini merupakan tanaman yang bisa menghasilkan bagi masyarakat, vanili dan pohon buah lainnya memiliki harga jual yang cukup tinggi, yang diharapkan membuat perekonomian masyarakat meningkat dan masyarkaat juga merasa perlu untuk merawat pohon-pohon tersebut karena menguntungkan bagi mereka,” ucapnya.

Kemudian ia menjelaskan Danau Sentani merupakan cagar alam yang dimiliki Jayapura, oleh sebab itu perlu adanya kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk dengan masyarakat adat yang tinggal di sekitar Danau Sentani. Edukasi dan pelatihan tentang potensi bencana yang akan terjadi dan cara penanganannya diberikan kepada masyarakat setempat.

“Mitigasi dengan kolaborasi dilakukan karena Danau Sentani adalah cagar alam, edukasi seperti apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Selain itu melakukan pelatihan kepada masyarakat adat agar memahami tanda-tanda jika terjadi bencana dan penangananannya,” tutup Mathius.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com