FOKUS

Hari Kemerdekaan, Momentum untuk Berkontemplasi dan Positive Thinking

JAKARTA (tandaseru) – Momentum Hari Kemerdekaan Indonesia ke-75 tahun ini merupakan waktu yang tepat untuk berkontemplasi dan berpikiran positif atas ketentuan Tuhan, ketika bangsa Indonesia sedang menghadapi tantangan ekonomi dan kesehatan akibat Covid-19.

“Saat ini anak-anak muda mesti berkontemplasi atau  merenung sejenak, apakah yang kita lakukan sudah memberi dampak bagi sekitar. Agar kita bisa  berdampak dan sama-sama saling bantu untuk menghadapi krisis kesehatan dan ekonomi di negara saat ini,” ungkap Giring Ganesha, politisi dan CEO Kincir.co, Senin (10/8).

Musisi yang dikenal dengan nama Giring Nidji ini mengungkapan itu saat menjadi salah satu narasumber Nasional Is Me, sebuah acara Talkshow Online yang digelar Bentang Merah Putih dan Komunitas Nasional Radikal (NaKal) Live di Radio Persada dan Heartline 100.6 FM Karawaci setiap minggu. Tema kali ini mengangkat tema “Bunyikan Orasi Lantang Kemerdekaan RI.”

Seperti biasanya, Yohana Elizabeth dan Frans Nikolas bertindak sebagai Host acara dan Talkshow kali ini yang mengangkat tema “Bunyikan Orasi Lantang Kemerdekaan RI.” Selain Giring, talkshow mengundang narasumber lannya yakni Judi Wahjudin selaku Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kemendikbud.

Giring mengajak para anak muda Indonesia untuk memberikan kontribusi bagi bangsa sekecil apapun itu. “kita harus memiliki peran yang penting apapun latar belakang kita, sehingga kita bisa melewati masa pandemi ini bersama-sama,” katanya.

Sementara itu, Judi Wahjudin mengatakan seringkali kita melihat kesuksesan seseorang pada masa saat ini, tetapi tidak melihat proses sebelumnya. Karena itu, Kemendikbud memiliki program belajar bersama maestro sebagai salah satu proses belajar. “Harapanya para maestro bisa memberikan pengalaman dan kiat-kiat mereka hingga bisa menginspirasi generasi muda kita,” ungkapnya,

Judi Wahjudi juga mengajak para pelaku seni dan budaya untuk memberikan kontribusi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. “Bahasa seni dan budaya itu unik, misalnya untuk mengimbau pencegahan Covid-19 yang disampaikan dengan bahasa setempat akan lebih mudah diterima oleh masyarakat daripada bahasa ekonomi dan politik yang cenderung orang tersinggung” ujarnya.

Dia memberikan contoh, komunitas dari Bali yang mendampingi kementerian yang bergerak di pedesaan. Di sana rambu-rambu dan simbol-simbol peringatan semuanya menggunakan local wisdom atau kearifan budaya agar mudah dipahami oleh masyarakat setempat.

Menurut Judi, pandemi adalah guru terbaik untuk belajar saling mengasihi dan saling berempati antar sesama. “Awalnya mungkin sedikit kita berkeluh kesah tapi kelamaan kita bisa beradaptasi, nah adaptasi ini menjadi kunci untuk menghadapi pandemi ini. Karena itulah menurut pandemi ini semacam tantangan dan peluang bagi kita,” paparnya.

Sebagai contoh, tutur Judi, dunia pendidikan saat ini harus beradaptasi dengan teknologi informasi, kolaborasi dan komunikasi, yakni bagaimana memanfaatkan IT sebaik mungkin sehingga bisa dimanfaatkan di berbagai sektor dan lintas wilayah, misalnya aplikasi Zoom untuk bejalar jarak jauh.

Judi pun mengingatkan generasi muda agar terus meningkatkan kompetensi, tidak hanya pengetahuan dan keterapilan tetapi juga keseimbangan,.“Jadi perlu asupan keseimbangan emosi dan religi di dalamnya,” ungkap Judi.

Selanjutnya, tutur Judi, harus mempertebal rasa syukur kepada Sang Pencipta dan peluang berkontemplasi untuk evaluasi diri dari yang telah diperbuat, positive thinking terhadap ketentuan Tuhan.

Terakhir, perlahan mengubah mindset, sehingga bisa adaptasi untuk menghadapi tantangan saat ini, semangat kreatifitas akan muncul untuk mengahadapi situasi pandemi dengan gotong-royong dan saling mengasihi.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait