FOKUS

HSU001: Ambisi Tiongkok Menyerang dari Dasar Laut

NEWPORT (tandaseru): Era kapal selam tak berawak hampir tiba. Ahli strategi angkatan laut Cina telah menyatakan secara eksplisit bahwa mereka bermaksud untuk menghindari kelemahan yang telah lama dikenal dalam perang kapal selam dengan mengembangkan UUV (kapal selam tak berawak) yang canggih.

Selama ini Angkatan Laut Tentara Pembebasan rakyat China (PLAN) mengoperasikan Achilles, Kapal selam nuklir bertenaga Diesel dan menggunakan “boomer” [SSBN] kelas Kilo yang diimpor dari Rusia. Achilles dianggap terlalu berisik . 

Disisi lain, geografis perairan bawah laut China cukup sulit untuk operasi tempur bawah laut. Bahkan, jika China menerjunkan kapal selam yang tenang dengan kru yang terlatih, batimetri dangkal di sebagian besar wilayah pesisir Tiongkok akan menjadi kendala besar. Apalagi PLAN juga tidak memiliki pengalaman dalam berburu kapal selam musuh.

Itulah sebabnya, PLAN mewujudkan rencana ambisius mereka menguasai kekuatan bawah laut dengan mengoperasikan kapal selam tak berawak (UUV) HSU001.

HSU001pertama kali muncul saat Parade Peringatan 70 tahun militer Tiongkok pada 1 Oktober 2019 lau. Bedasarkan foto yang beredar saat parade, HSU001diperkirakan memiliki panjang sekitar lima meter dan lebar sekitar 1,5 meter. 

Lyle J. Goldstein, Profesor Riset di China Maritime Studies Institute (CMSI) menilai bent HSU001 menyerupai kapal selam nuklir kelas Oscar Soviet (Tipe 949) dan juga sangat mirip dengan desain UUV Jerman. Konsep lambung yang dipakai juga memiliki kesamaan dengan UUV Harpsichord Rusia. 

Dibandingkan dengan desain UUV Amerika, HSU001 lebih luas dan memiliki propulsi poros ganda. Meski demikian, desain UUV ini tetap mempertimbangkan stabilitas dan juga mengurangi kebisingan.        

Dalam operasi temper, HSU001 memiliki tiga peran yaitu:

Pertama, memasok data intelijen saat pertempuran di laut. Proporsi kapal yang tidak terlalu besar, namun memiliki struktur yang sederhana dan kuat memungkinkannya untuk berbaur dan berdiam di dasar laut dalam waktu yang lama. HSU001 mama melakukan misi pengamatan diam-diam lebih dari 30 hari.

Misi cedua HSU001 adalah memberi dukungan terhadap operasi khusus. Menampung 6 pasukan katak dan beroperasi selama delapan jam. Misi ini termasuk dalam menghadapi Taiwan.

Misi ketiga HSU001 berkaitan dengan meningkatnya ketegangan di wilayah Laut Cina Selatan. Selama ini patroli navigasi pasukan Amerika Serikat (AS) dianggap mengancam benteng kapal selam strategis China. Nah, HSU001 ini sangat cocok untuk tantangan ISR di Laut Cina Selatan, karena tahan terhadap cuaca dan memiliki kemampuan patroli dalam rentang waakte lama

Secara terus menerus HSU001 akan memberikan informasi tentang pergerakan musuh di Laut Cina Selatan, peringatan terhadap aktivitas pasukan amfibi musuh, serta aktifitas perang ranjau yang ofensif dan défensif.

infografis HSU

 

 

HS001

 

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait