FOKUS

Impor Produk Pertanian Dibatasi, Amerika Kritik Indonesia

JAKARTA (!) – Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia Joseph R Donovan mengkritik Indonesia terkait pembatasan impor produk makanan dan pertanian, karena dianggap hanya akan mengganggu pasar.

“Itu akan mengganggu pasar. Saya memahami bahwa Indonesia ingin membantu para produsen di daerah untuk meningkatkan pendapatannya, tetapi itu bukan hal yang tepat sekarang,” kata Donovan di acara US-Indonesia Investment Summit, di Jakarta, Kamis (2/11).

Sebab, menurut Donovan, untuk meningkatkan pendapatan petani dapat dicapai melalui penelitian dan pengembangan serta melakukan pembenahan infrastruktur daerah agar jalur rantai pasokan dapat dipangkas.

Dia juga memahami keinginan Indonesia untuk menciptakan ketahanan pangan. Namun, ketahanan pangan tidak selalu berarti swasembada. Karena dapat dilakukan berdampingan dengan impor guna mencapai persediaan pangan domestik secara stabil dan pasti.

“Saya percaya kita semua tidak ingin hubungan dagang pertanian kita yang saling menguntungkan terkena dampak negatif kebijakan proteksionis dari hasil pemikiran jangka pendek ini,” kata dia.

Donovan melanjutkan, perdagangan di sektor pertanian antara AS dan Indonesia merupakan sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan. Tahun lalu saja, perdagangan bilateral kedua negara di sektor itu mencapai nilai Rp10,4 triliun.

Baca Juga:

“Kedua negara kita saling mengekspor produk unggulannya. Produk ekspor unggulan Indonesia ke AS berupa produk-produk budi daya perikanan, kepala sawit, cokelat, kopi, dan rempah-rempah,” kata dia lagi.

Sementara itu, kedelai, kapas, gandum, buah-buahan, daging ternak, dan produk susu menjadi produk unggulan impor AS ke Indonesia. Produk impor ini, menjadi bahan baku penting bagi industri tempe, tahu, bahan tekstil, mi instan, dan produk daging di Indonesia.

Produk ekspor Indonesia, juga tak kalah penting buat AS, karena produk impor asal Indonesia digunakan untuk industri karet, kudapan, minuman dan makanan di Amerika yang bernilai mencapai miliaran dolar AS.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait