FOKUS

Indonesia-IAEA Teken Kerja Sama Teknik Aplikasi Nuklir

WINA (tandaseru) – Indonesia dan Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) menandatangani dokumen Country Program Framework/CPF (Kerangka Program Negara) untuk periode tahun 2021-2025 di Markas Besar IAEA, Wina, Austria, Rabu (23/9).

Penandatanganan dokumen CPF 2021-2025 ini dilakukan di sela-sela Pertemuan General Conference IAEA ke-64 dimana Wakil Tetap RI (Watapri) Wina Dubes Dr. Darmansjah Djumala bertindak sebagai Vice President Konferensi.

Dokumen tersebut ditandatangani oleh Duta Besar/Wakil Tetap RI untuk PBB dan Organisasi Internasional Lainnya di Wina, Dubes Djumala bersama Deputi Direktur Jenderal IAEA Bidang Kerjasama Teknis, Dazhu Yang. Penandatanganan juga disaksikan secara virtual oleh Kepala BATAN Prof. Dr. Anhar Antariksawan dan tim teknis BATAN.

Dokumen CPF merupakan rencana strategis jangka menengah yang akan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kerja sama teknis (Technical Cooperation) pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Dokumen CPF 2021-2025 mencakup 6 bidang kerja sama: keselamatan dan keamanan radiasi, pangan dan pertanian, kesehatan dan nutrisi, sumber daya air dan lingkungan, energi dan industri, serta pengembangan kapasitas.

Penyusunan CPF ini mengacu pada program dan prioritas pembangunan nasional, serta mengakomodasi elemen-elemen dalam Sustainable Development Goals.

Tonggak Penting

Dalam acara penandatanganan tersebut, Deputi Dirjen IAEA menyampaikan bahwa dokumen CPF ini menjadi tonggak penting bagi keberlanjutan pelaksanaan program kerja sama teknis bersama Indonesia.

Hal senada disampaikan oleh Dubes Darmansjah Djumala. Menurut dia, implementasi dokumen CPF ini sangat penting bagi pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai yang bersifat membumi (down-to-earth) serta memberikan dampak sosial ekonomi yang nyata bagi masyarakat, seperti pada bidang pangan, kesehatan dan industri.

CPF IAEA 64-b
(Kedubes/PTRI Wina)

Lebih lanjut, Dubes Darmansjah menyampaikan penyusunan dokumen CPF merupakan wujud komitmen pemerintah Indonesia dalam melanjutkan kerja sama dengan IAEA dalam pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai, termasuk untuk menjawab tantangan global saat ini seperti penanganan pencemaran lingkungan dan penanggulangan penyakit zoonotik.

“Melalui CPF ini pula Indonesia berkomitmen mengambil peran aktif mendukung program IAEA, khususnya dalam membantu meningkatkan kapasitas SDM negara anggota lain melalui kerangka practical arrangement dan kerjasama selatan-selatan,” kata Dubes Darmansjah dalam siaran pers Kedubes/PTRI Wina yang diterima Tandaseru.id, Kamis (24/9).

Indonesia menjadi anggota IAEA sejak tahun 1957 dan berperan aktif dalam upaya global pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Selama periode keanggotaan ini, Indonesia telah menandatangani dokumen CPF sebanyak 5 kali.

Kerja sama pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai antara Indonesia dan IAEA telah memberikan manfaat nyata bagi Indonesia, di antaranya pemanfaatan teknologi mutasi radiasi untuk pemuliaan varietas tanaman pangan (padi, kedelai, kacang hijau, sorgum, kacang tanah dan pisang).

Pemanfaatan teknologi ini memberikan dampak positif bagi peningkatan pendapatan petani pengguna, diagnosa dan terapi penyakit menggunakan teknologi radiasi, hingga pemanfaatan teknologi iradiasi oleh sektor industri nasional.

Melalui kerja sama teknis dengan IAEA, Indonesia juga telah berhasil meningkatkan kapasitas SDM dan fasilitas penelitiannya sehingga menjadi pusat acuan (collaborating centre) IAEA untuk bidang pangan serta uji tak merusak.

 

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait