FOKUS

Kasus Dugaan Pemalsuan SNI Produk Besi Siku Impor, AMMI Desak Polda Metro Tangkap Pengusaha Ini

JAKARTA (tandaseru) – Aliansi Advokat Muda Indonesia (AMMI) mendatangi Polda Metro Jaya untuk mendesak penyidik menangkap Kimin Tanoto yang merupakan tiga Direktur perusahaan besi yang diduga melakukan pemalsuan label SNI terhadap produk besi siku impor dari Cina dan Thailand.

Tiga perusahaan tersebut merupakan yakni PT Angkasa Sentosa Abadi, PT Gunung Inti Sempurna, dan PT Prisma Paramita.

“Ketiga perusahaan milik Kimin Tanoto itu mengimpor besi siku dari negara tadi, tapi sesampainya di Indonesia, identitas standarnya diganti menjadi SNI lokal (seolah produk asli Indonesia),” ujar koordinator AAMI Simon Fernando Tambunan di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin, (13/7).

Simon mengungkapkan tindakanmemalsukan label SNI itu sudah dilakukan selama kurang lebih tiga tahun lamanya. Dalam operasinya, tindakan tersebut sudah mengakibatkan kerugian negara sebanyak Rp2,7 Triliun.

“Kami minta kasus ini ditetapkan sebagai perkara korupsi dan polisi menangkap Kimin Tanoto,” ucapnya.

Laporan atas dugaan tindakan pemalsuan label SNI ini sudah masuk dengan nomor LP/659/VI/YAN2.5/2020/SPKT PMJ tertanggal 17 Juni 2020. Dalam laporan itu, pelapor menjerat Kimin Tanoto dengan Pasal 263 KUHP dan atau pasal 120 UU Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian dan UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

Dari informasi yang dihimpun, sampai saat ini polisi baru menangkap 2 orang dengan inisal L dan A serta masih memburu Kimin Tanoto. Dari tangan mereka, polisi menyita 4.600 ton besi siku impor yang ditempeli stiker SNI palsu berlogo Gunung Garuda.

Selain didesak oleh AAMI, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mempertanyakan sikap kepolisian dinilai tidak transparan menangani kasus pemalsuan label SNI dalam produk besi siku tersebut.

Menurut Neta, kasus ini perlu mendapat perhatian serius karena praktik pemalsuannya sudah berlangsung selama tiga tahun dan berpotensi merugikan negara sebesar Rp2,7 triliun. Neta menjelaskan, Polri harusnya mengawasi penanganan kasus ini.

“Kenapa kasus pemalsuan label SNI pada produk besi siku di KBN Marunda, Jakarta Utara, tak kunjung dituntaskan. Padahal informasinya, penangkapan sudah dilakukan pada 17 Juni 2020,” kata Neta,

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait