FOKUS

Klitih, Kejahatan Jalanan dari Anggota Geng MGK di Bantul DIY

BANTUL (tandaseru) – Sebanyak 11 anggota geng Ma’arif Garis Keras (MGK) yang terlibat aksi kejahatan jalanan atau klitih di Jalan Bantul, Kabupaten Bantul akhirnya diringkus polisi.

Anggota geng MGK tersebut mengaku melakukan kejahatan jalanan alias Klitih karena ingin membalaskan dendam tapi salah sasaran. Lalu bagaimana kejahatan jalanan itu disebut klitih.

Dikutip dari Harian Kompas, 18 Desember 2016, dalam Kamus Bahasa Jawa SA Mangunsuwito, kata klithih berasal dari klithah-klithih yang artinya berjalan bolak-balik agak kebingungan

Namun kata klitih sekarang menjadi sebuah makna tindakan negatif atau dipakai untuk menunjuk aksi kekerasan dan kriminalitas. Beberapa kasus kriminalitas yang merujuk pada klitih, pelakunya masih berusia remaja atau masih berstatus pelajar/ siswa sekolah.

Sa;ah satu klitih adalah sebuah Geng Ma’arif Garis Keras (MGK) di Kabupaten Bantul, DIY. Sebanyak 11 anggota MGK ini sudah ditangkap polisi.

Kasat Reskrim Polres Sleman, AKP Rudi Prabowo mengatakan penganiayaan yang dilakukan anggota MGK berawal dari Riski yang membuat status WhatsApp (WA). Status itu berisi untuk mengajak para anggotanya berkumpul.

“Jadi dari pemeriksaan, awal mula si Riski ini buat status di WA ‘Kumpul, Penting’ dan semuanya (anggota MGK) jadi kumpul. Dari situ, R seperti memberi doktrin ke juniornya kalau teman kita ada yang kena dan ayo kita balas dendam,” ucapnya.

Selanjutnya mereka berkumpul dan mengincar salah satu geng sekolah di Yogyakarta. Menurutnya, dari 11 orang yang diamankan terdapat 3 alumni yang diduga sebagai penggerak MGK.

“Tujuannya mereka geng (sekolah) lain, tapi dalam kenyataannya sembarangan dalam melakukan aksinya. Jadi ketemu langsung disikat, tapi korban tak sesuai harapan mereka karena ternyata bukan target utamanya. Mungkin karena beberapa dari mereka dalam pengaruh pil,” katanya.

Sementara itu, pelaku pembacokan, Riski mengakui perbuatannya. Menurutnya, ia mengajak juniornya untuk memburu geng sekolah lain karena tidak terima anggotanya menjadi korban geng lain.

“Saya tidak gerakin, itu niatnya balas dendam karena adik kelas saya ada yang kena, balasnya ke (salah satu) geng sekolah di Bantul,” katanya dengan nada lirih.

Diwawancarai terpisah, Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Riko Sanjaya membenarkan adanya aksi penganiayaan oleh sekelompok orang di selatan Desa Wisata Kasongan beberapa hari lalu.

Menurutnya, korban adalah AM (19), seorang mahasiswa yang bertempat tinggal di Desa Baturetno, Kecamatan Banguntapan, Bantul. Akibat sabetan clurit dari Riski, AM mengalami luka pada bagian lengannya.

“Iya, ada kejadian pembacokan dan ada 1 korban, pelakunya itu rombongan, mereka mengaku membalas gerombolan yang lain. Saat ini sudah diamankan, dan 2 orang yang kita proses yakni, RSA yang jadi eksekutor dama MBL yang jadi joki,” katanya saat dihubungi wartawan, siang ini.

“Untuk si joki (Mayik) saat ini sedang diproses rehabilitasi, karena si joki masih di bawah umur,” imbuh Riko.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait