FOKUS

Kominfo Jatim Dorong KIM Lebih Optimal Cegah Penyebaran Hoax

MALANG (tandaseru) – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Timur terus mendorong Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) agar mengoptimalkan perannya dalam mencegah penyebaran hoax. Hal ini dilakukan salah satunya dengan membuat forum pegiat medsos bertajuk peran KIM Sebagai Jurnalis Warga untuk Mencegah Penyebaran Hoax. 

“Peran KIM sudah direvitalisasi sebagai media jurnalisme warga menuju masyarakat informatif. Untuk itu diharapkan mampu mewujudkan masyarakat Jatim sebagai masyarakat informatif, pandai memilah informasi yang baik dan benar,” ujar Kepala Diskominfo Jatim, Benny Sampirwanto, dalam sambutannya yang dibacakan Sekretaris Diskominfo Jatim, Aju Mustika Dewi, pada pembukaan Forum Pegiat Medsos yang dihadiri anggota KIM se Jawa Timur di Malang, Jum’at (23/10).

Dalam acara tersebut, ia memaparkan menurut data Kemkominfo tahun 2019, ada 137 juta pengguna internet di Indonesia dan terdapat 800.000 situs penyebar berita bohong/hoax yang juga ada di indonesia. Hal ini merupakan angka yang fantastis dalam dunia internet di Tanah Air.

“Ketika instrumen hukum belum berhasil dalam melawan hoax maka diperlukan cara yang lain, satu di antaranya adalah citizen journalism atau jurnalisme warga. bukanya tanpa sebab memilih hal tersebut, dikarenakan jurnalis warga beserta berita dan informasinya bisa cepat menyebar serta memiliki daya influencer terhadap persepsi publik, sekalipun harus diakui sumber hoax juga berasal dari citizen jurnalism,” terangnya.

Ia pun berharap KIM lebih mengeratkan kerjasama dan sinergi antara anggota KIM dalam menekan penyebaran hoax yang sering beredar di media sosial dengan cepat dan masif. Selain itu bisa ditekan sehingga masyararakat tak mudah dipecah belah, tetap menjunjung tinggi kerukunan serta persatuan dan kesatuan.

Eko Pamuji, selaku narasumber forum pegiat medsos dari Persatuan Wartawan Indonesi (PWI) Jatim, mengatakan, sejak dulu hoax itu sudah ada, namun medianya saja yang beda. Menurutnya, hoax itu datang dari diri sendiri, sehingga yang harus dicegah adalah perilaku diri sendiri. Caranya dengan sehat menerima informasi yakni siap menerima informasi apapun karena filter ada di diri kita.

“Masyarakat kita ini kan masyarakat reaktif, ketika menerima informasi langsung dibagikan meskipun tidak tau soal kebenarannya,” ujarnya.

Dikatakannya, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media sosial sebenarnya sangat rendah. Justru tingkat kepercayaan tinggi ada pada media mainsream, karena media mainstrem tidak akan menjual dirinya untuk mempublikasikan berita hoax. Oleh karena itu, sebagai upaya mencegah hoax, PWI punya jaringan wartawan anti hoax. Wartawan-wartawan ini kemudia sepakat medianya mencegah masuknya berita hoax, dengan melakukan verifikasi informasi atau verifikasi yang dilaukan berulang.

Sementara Rofin Aryunia, Perwakilan dari Mafindo selaku pemilik Portal turnbackhoax.id yang juga selaku narasumber, mengatakan, KIM adalah ibadah kebaikan. Kim tak hanya agen of chage, agen informasi namun juga agen edukasi.

“Harapan kami untuk KIM, adalah agar KIM mampu mengambil kebijakan dari sebuah kearifan lokal. Yakni keberadaan Siskamling yang bertujuan untuk menjaga keamanan lingkungan. Karena saat ini keamanan kita tisak hanya di lingkungan sekitar, tetapi juga informasi yang kita konsumsi, kenapa tidak KIM membuat Siskamling digital,” jelasnya.

Dengan begitu, peran KIM lebih optimal sebagai mitra pemerintah dalam mengedukasi masyarakat dalam memfilter informasi-informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait