FOKUS

Kusta: Kisah Misterius yang Tak Ada Habisnya

Hari Kusta Sedunia 2021

Minggu terakhir Januari setiap tahun diperingati sebagai Hari Kusta Sedunia. Tanggal 31 Januari juga bertepatan dengan peringatan meninggalnya Mahatma Gandhi yang dijuluki sebagai Bapak Kusta.

Indonesia menempati peringkat ketiga kusta setelah India dan Brasil. Eliminasi kusta di Indonesia secara umum sudah tercapai pada tahun 2020, namun beberapa provinsi masih belum berhasil eliminasi kusta.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, tahun 2020 masih ada 8 provinsi yang belum tercapai eliminasi kusta, yaitu Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Kemenkes mengungkap ada 16.704 kasus kusta aktif di Indonesia pada 2020.

Data Direktorat P2PML Kemenkes menunjukkan prevalensi kusta pada 2018 adalah 6,42 persen, 2019 sebesar 6,50 persen, namun pada 2020 hanya sebesar 3,34 persen kasus baru per 100.000 penduduk. Di mana sepanjang 2020 hanya ditemukan 9.000 kusta aktif.

Mirisnya, dari jumlah tersebut, 9,4 persen di antaranya kasus kusta anak. Adanya kasus kusta pada anak ini menunjukkan tingginya prevalensi kusta di daerah tersebut. Biasanya anak tertular dari orang terdekat yang tinggal di rumah atau pengasuh yang ternyata menderita kusta.

Untuk menemukan kasus kusta aktif pada anak biasanya petugas kesehatan dari puskesmas atau dinas setempat mendatangi sekolah. Tapi akibat kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi, hal ini menghambat penanganan penyakit kusta. Diperkirakan kasus kusta masih banyak yang tidak terlapor atau tidak terdeteksi, termasuk kusta pada anak.

Namun menjadi pertanyaan besar, penyakit kusta sudah ada sejak jaman dulu dan masih bertahan sampai sekarang. Ada apakah gerangan?

Seperti kisah misteri yang tak ada habisnya. Dari gambaran klinis penyakit kusta ini memiliki 1000 wajah. Banyak kemiripan dengan penyakit lain, dan tiba-tiba terdeteksi jika sudah mengalami gangguan saraf atau kelemahan bagian tubuh, bahkan timbul kecacatan. 

Diperlukan deteksi dini dan kewaspadaan petugas medis untuk mendeteksi awal penyakit. WHO sendiri menaruh perhatian khusus pada penyakit kusta. Ketersediaan obat Multi Drug Therapy (MDT) untuk kusta telah didistribusikan oleh WHO ke seluruh negara yang memiliki kasus kusta. 

Diagnosis Penyakit Kusta

Penyakit kusta atau lepra adalah penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit ini ditakuti oleh masyarakat karena menimbulkan stigma negatif yang beredar di masyarakat bahwa kusta adalah penyakit kutukan.

Minimnya pemahaman akhirnya membuat penderita kusta merasa malu dan baru datang berobat saat sudah terjadi komplikasi berupa kecacatan yang dapat permanen. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengenal lebih dalam apa saja gejala penyakit kusta.

Diagnosis penyakit kusta berdasarkan pada penemuan satu dari tiga tanda utama yaitu Pertama, bercak pada kulit warna putih atau kemerahan yang mati rasa. Mati rasa dapat total atau sebagian saja terhadap rasa raba, suhu dan nyeri.

Kedua, penebalan saraf tepi yang dapat disertai dengan gangguan fungsi saraf seperti mati rasa, kelemahan otot atau kelumpuhan, kulit kering dan pertumbuhan rambut yang terganggu. Ketiga ditemukan kuman tahan asam pada jaringan kulit

Penyebarluasan informasi kepada masyarakat mengenai penyakit kusta sangat penting, agar dapat mengenali gambaran kusta secara lebih awal. Peran aktif masyarakat sangat diperlukan, sehingga  pencarian kasus baru secara cepat sehingga dapat diobati lebih awal.

Demikian juga halnya dengan orang yang kontak erat dengan penderita kusta. Secara teori orang yang kontak erat dengan penderita kusta multibasiler (MB) berpeluang untuk menjadi kusta klinis 8-10x lebih tinggi.

Sesuai dengan program pemerintah tahun ini agar segera menemukana kasus kusta, lalu periksa kontaknya, dan segera obati dengan tuntas, hal ini agar tercapai eliminasi kusta Indonesia secara global tahun 2024. 

Kusta dapat sembuh tanpa meninggalkan kecacatan selama didiagnosis sejak dini dan segera ditangani. Pasien juga harus menjalani pengobatan sampai tuntas sesuai dengan instruksi dokter.

 

Penulis: Fifa Argentina, Peneliti/Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com