FOKUS

Makin Pede Tinggalkan Dolar AS, LCS Indonesia Punya Banyak Benefit

JAKARTA (tandaseru.id) – Kebijakan Local Currency Settlement (LCS) tidak hanya bantu pulihkan ekonomi Nasional, tapi juga punya banyak benefit yang bisa dirasakan terutama pelaku perdagangan dan investasi, Jum’at, (17/9).

Dalam webinar yang bertajuk “Sosialisasi Local Currency Settlement, Penggunaan Mata Uang Lokal Dalam Kerangka LCS Untuk Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional”, Bank Indonesia bersama KADIN dan APINDO bersinergi lakukan sosialisasi LCS.

Sebagai pembicara Donny Hutabarat, Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan (DPPK), Panji Irawan, Managing Director Bank Mandiri dan Anne Patricia Sutanto, Vice CEO Pan Brothers.

Dengan negara mitra yang bertambah menjadi empat, membuat laju perkembangan LCS semakin pesat dan Indonesia terutama semakin “pede” untuk meninggalkan dolar AS sebagai mata uang perdagangan luar negeri.

Donny Hutabarat, Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan (DPPK)

Donny beranggapan perkembangan LCS sangat positif khususnya untuk Jepang, dari awal diimplementasikan hanya sekitar 12 juta USD, tapi begitu masuk pada tahun 2021 angka tersebut melejit hingga kurang lebih 112 juta USD per-bulan

“LCS ini memang masih kecil jika dilihat persentasinya, namun pertumbuhannya sangat signifikan terutama dengan Jepang, apalagi jika nanti sudah berbentuk liquid, tentu akan jauh lebih efisien.” ungkapnya

Untuk transaksi LCS hanya bisa dilakukan pada bank yang ditunjuk sebagai Appointed Cross-Currency Dealer (ACCD). Untuk Bank ACCD ini sendiri antara Indonesia-Malaysia ada 8 bank di Indonesia dan 7 di Malaysia.

Panji Irawan, Managing Director Bank Mandiri

LCS Indonesia-Thailand ada 12 di Indonesia dan 11 di Thailand, LCS Indonesia-Jepang ada 7 bank di Indonesia dan 5 di Jepang, sementara LCS Indonesia-Tiongkok ada 12 bank di Indonesia dan 8 di Tiongkok.

Menurut Panji Irawan, benefit yang didapatkan dengan menggunakan fasilitas LCS ini selain bisa terlepas dari ketergantungan pada mata uang tertentu, dalam hal ini dolar AS, bisa juga meningkatkan risiliensi pasar keuangan Indonesia dalam menghadapi tekanan eksternal terutama jika ada dampak kebijakan tapering di AS.

“LCS juga bisa menjaga stabilitas rupiah, mengurangi risiko kerugian akibat kondisi global yang bergejolak, pelaku usaha tidak perlu konversi mata uang ke USD yang membuat biaya transaksi berkurang serta mengurangi biaya currency hedging,” jelas Panji

Anne Patricia Sutanto, Vice CEO Pan Brothers

Namun dari sisi pengusaha menurut Anne Patricia Sutanto, LCS tidak terlalu bisa dimanfaatkan jika yang dihasilkan berupa USD, tapi bisa dimanfaatkan jika bahan dari lokal dan produksinya pun lokal, maka LCS bisa jadi penunjang yang baik.

Jadi LCS ini menurut Anne sangat baik untuk kategori usaha tertentu, namun untuk kategori yang lain mungkin belum bisa dijadikan solusi yang konkret kecuali, ada beberapa hal yang bisa jadi pendukung seperti benefit atau insentif yang diterima pelaku usaha Indonesia yang melakukan LCS.

“Memang ada supplier industri Tiongkok yang agak reluctant, jadi perlu ada push G to G dari BI mungkin kepada central bank di Tiongkok untuk bisa melihat bahwa LCS ini solusi yang baik antara kedua negara, agar jauh lebih optimal,” ungkapnya

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com