FOKUS

Membedah Ekonomi Sumsel: Tantangan dan Peluang saat Covid-19

PALEMBANG (tandaseru) – Ekonomi Sumatera Selatan diproyeksikan hanya tumbuh 3,4%-3,8% pada tahun ini, jauh di bawah pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 5,71% akibat dampak pandemi virus corona (Covid-19).

Menurut Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumsel Hari Widodo, ekonomi Sumsel diperkirakan melambat pada triwulan kedua hingga ketiga tahun ini ke kisaran 2,9%-3,16% sebelum menggeliat kembali mulai triwulan keempat.

“Proyeksi kami, tahun ini ekonomi Sumsel akan tumbuh 3,4%-3,8% sebagai akibat dari penurunan investasi, konsumsi rumah tangga, dan ekspor. Tahun depan insyaallah pertumbuhan akan meningkat lagi,” ungkapnya.

Dia menyampaikan hal itu dalam Webinar bertema Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Mitigasi Sektor Keuangan dan Perekonomian Regional Sumatera Selatan, yang diselenggarakan oleh Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya bekerja sama dengan Lab. Perbankan FE Unsri, Selasa (12/5).

Selain Hari Widodo, webinar menghadirkan narasumber lain, yakni Kepala Otoritas Keuangan (OJK) Regional 7 Sumbagsel Untung Nugroho dan guru besar FE Unsri Prof. Dr. Bernadette Robiani. Webinar dibuka oleh Dekan FE Unsri Prof. Mohamad Adam dan dipandu oleh dosen/peneliti FE Unsri Dr. Sukanto.

Hari mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Sumsel pada triwulan pertama tahun ini masih cukup tinggi yakni 4,98%, meksipun lebih rendah dibandingkan dengan pencapaian pada triwulan sebelumnya 5,69%.

“Kita patut bersyukur karena penurunannya tidak tajam, sebab kita masih ditopang data per Januari dan Februari yang cukup baik, sementara dampak Covid-19 baru terasa mulai Maret. Ini juga sesuai dengan prediksi BI yaitu event better tumbuh 5,0%-5,16% dan ternyata turunnya 4,98% atau tidak selisih terlalu jauh,” ujarnya.

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Sumsel pada Januari-Maret itu berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 2,97%, bahkan dibandingkan dengan regional Sumsel sebesar 3,32%.

Tekanan terhadap ekonomi Sumsel, papar Hari, terutama akibat penurunan dari sisi pengeluaran yakni konsumsi rumah tangga, selain investasi dan ekspor.

Harga Komoditas

Dari sisi ekspor, Covid-19 telah menekan harga berbagai komoditas di pasar global akibat merosotnya permintaan dari negara-negara tujuan utama ekspor, seperti China.

“Sebagai open economy, Indonesia terdampak gejolak pasar global, termasuk komoditas, sebab ekspor kita masih bergantung pada sumber daya alam. Apalagi ekonomi Sumsel yang masih berbasis komoditas rentan terhadap risiko di pasar global,” ujarnya.

Berdasarkan data Bloomberg per 13 April 2020, indeks harga komoditas ekspor Indonesia sepanjang tahun ini (year to date) sebesar 0,9, yang mana penurunan terjadi hampir di semua komoditas kecuali CPO (16,4) dan kopi (7,2). Bahkan, harga minyak dunia sempat merosot ke titik terendah hingga di bawah US$20 per barel.

Hari mengatakan, akibat dampak Covid-19 ekonomi beroperasi di bawah kapasitas normal. Dari sisi lapangan usaha dan penggunaannya, ekonomi masih mengandalkan konsumsi rumah tangga yang mencakup 65% dari total PDB, disusul investasi, ekspor dan konsumsi pemerintah.

“Meskipun konsumsi rumah tangga masih tumbuh positif, tetapi potensinya menurun karena adanya pembatasan sosial. Investasi juga masih tumbuh karena ditopang Januari-Februari, begitu juga ekspor tetap tumbuh, terutama dari komoditas kayu, barang dari kayu, dan produk kertas,” paparnya.

Dia mengungkapkan dampak Covid-19 telah menggeser struktur lapangan usaha di Sumsel pada triwulan IV/2019, yakni sektor pertambangan dan penggalian yang semula berkontribusi paling besar terhadap PDRB bergeser ke posisi kedua setelah pertanian, kehutanan dan perikanan.

Wabah Covid-19 mempengaruhi hampir semua sisi ekonomi di Sumsel, termasuk transportasi dan akomodasi (perhotelan) yang terkena dampak signifikan. Sektor transportasi, misalnya, mengalami penurunan produksi 80%-90% sejak wabah Covid-19 merebak dan mengakibatkan pendapatan merosot lebih dari 60%.

“Pariwisata juga terdampak, tapi kontribusinya di Sumsel masih rendah yakni 2%-4% terhadap PDRB. Meskipun demikian, sangat mempengaruhi sektor terkait seperti MICE, transportasi dan hotel,” ungkap Hari.

Dia mengutip informasi PHRI yang menyebutkan, sedikitnya 10 hotel telah berhenti operasi dan 87 hotel telah merumahkan sekitar 5.000 karyawannya akibat rendahnya tingkat isian hotel.

Dampak Berganda

Sementara itu, Prof. Bernadette menjelaskan wabah Covid-19 yang membawa dampak sangat luas, baik secara global maupun di dalam negeri. “Permintaan barang dan jasa menurun dan supply chain terhambat yang berdampak pada penurunan produksi, penumpukan barang dan menekan harga komoditas. Ini dampaknya kemana-mana, seperti PHK dan investasi terhenti,” ujarnya.

Akibat yang ditimbulkan berakumulasi, mulai dari penurunan penciptaan nilai tambah dan dampak berganda (multiplier effect) dari sektor pemerintah maupun swasta, peningkatan angka pengangguran hingga peningkatan kemiskinan.

Meskipun pertumbuhan ekonomi Sumsel lebih tinggi dibandingkan regional Sumatera pada triwulan pertama, Bernadette menilai penurunannya dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 5,69% sangat signifikan. “Kita bersyukur pertumbuhan triwulan I/2020 masih cukup tinggi, melampaui pertumbuhan regional dan nasional,” kata Prof. Bernadette.

Yang menarik dari pertumbuhan ekonomi Sumsel pada triwulan I/2020, menurut guru besar FE Unsri ini, yakni kontribusi dari industri pengolahan mencapai 1,18 atau naik dibandingkan dengan kontribusinya pada periode yang sama 2019 maupun triwulan IV/2019. “Berarti industri pengolahan Sumsel cukup menarik, meskipun dampak Covid-19 sudah terjadi pada triwulan pertama,” tuturnya.

Dilihat dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontribusi terbesar pertumbuhan ekonomi Sumsel yakni 2,14 pada triwulan I/2020, lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama 2019 sebesar 2,68.

“Mungkin terjadi penurunan konsumsi atau masyarakat menahan konsumsi untuk menabung karena konsumen belum tahu ke depan seperti apa. Tapi pertumbuhannya masih cukup tinggi,” ujarnya.

Dia juga melihat neraca perdagangan Sumsel masih surplus, yang ditopang oleh komoditas ekspor andalan seperti karet, pulp, batubara, CPO, kertas tisu, kayu dan produk kayu, urea dan produk farmasi.

“Yang menarik di sini adalah ekspor kertas tisu melonjak pada Januari-Maret 2020 menjadi 3,53 dari periode yang sama 2019 sebesar 1,15. Artinya kertas tisu bisa jadi andalan ekspor Sumsel ke depan,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Prof. Bernadette, tingkat inflasi di Sumsel selama ini cukup terkendali. Hingga April lalu, inflasi Sumsel tercatat 0,76% atau di bawah nasional 0,84%.

“Pertumbuhan ekonomi yang masih bagus, surplus perdagangan, dan inflasi masih terkendali, ini sebenarnya bisa menjadi kekuatan dan harus dipertahankan Sumsel untuk ke depannya,” tandasnya.

Peran UKM

Lebih jauh lagi, Prof. Bernadette menyoroti peran usaha kecil menengah (UKM) di Sumsel yang sangat dominan terhadap perekonomian. Data BPS Sumsel menunjukkan, unit usaha UKM berkontribusi 51,87% terhadap sektor perdagangan, sementara kontribusi tenaga kerjanya mencapai 43,47%. “Jadi dampaknya sangat besar karena kontribusi UKM terhadap sektor perdagangan dominan, sekitar separuhnya.”

Untuk memitigasi perekonomian Sumsel menghadapi Covid-19, menurut Bernadette, sangat ditentukan oleh masa berakhir pandemi itu di dunia, nasional dan lokal. “Perekonomian Sumsel akan dipengaruhi oleh arah kebijakan ekonomi global dan nasional, yang bergantung pada kapan pandemi berakhir,” ujarnya.

Dia mengutip penelitian McKinsey (2020) yang menyatakan, “our world (tomorrow) will be very different” yang menggambarkan lansekap bisnis telah berubah secara fundamental, lingkungan esok akan berbeda, inovasi teknologi akan terus berlanjut dan peningkatan pengetahuan manusia semakin diperlukan.

Prof. Bernadette menegaskan bahwa ketidakpastian dalam perekonomian merupakan kenyataan saat ini, sehingga Sumsel perlu menentukan kebijakan dengan memperhatikan kekuatan, kelemahan, serta peluang dan tantangan yang ada.

Kebijakan Jangka Pendek dan Panjang

Menurut dia, kebijakan yang perlu dilakukan Sumsel dalam jangka pendek ini bisa dimulai dari yang sederhana, yaitu segera merespons kebijakan fiskal dan moneter yang telah ditetapkan pemerintah.

“Pastikan alokasi anggaran stimulus untuk kesehatan dibelanjakan dengan efisien. Insentif, subsidi dan bantuan sosial dipastikan tepat sasaran yang artinya perlu dukungan penuh unit pelayanan publik mengingat ketersediaan data penduduk belum maksimal,” cetusnya.

Selain itu, lanjut Prof. Bernadette, maksimalkan kerja sama solid antar SKPD dinas terkait dan perbankan dalam memanfaatkan restrukturisasi perbankan untuk mendukung keberlanjutan usaha sektor-sektor produktif, khususnya terkait dengan data dan teknis pelaksanaan.

Pertanyaan selanjutnya adalah, kebijakan jangka panjang seperti apa yang harus dibuat oleh Sumsel. Menurut dia, memulai kebijakan jangka panjang ini akan sangat tergantung pada kapan pandemi Covid-19 selesai.

Prof. Bernadette mengatakan kebijakan yang sering kali dibicarakan selama ini adalah akselerasi hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah. Dia menilai Sumsel punya peluang dari sektor industri pengolahan, misalnya ekspor kertas tisu.

Selanjutnya, dia menyarankan penataan ulang UMKM mengingat Sumsel saat ini belum memiliki peta klaster dan aglomerasi yang jelas terkait dengan pola distribusi dan pasar.

Untuk jangka panjang, Sumsel juga harus memperkuat ketahanan atau swasembada pangan, antara lain menjaga inflasi terkendali, membenahi pola distribusi dan fasilitas transportasi. “Di sini peran TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) sangat penting agar ketahanan pangan bisa diperkuat lagi. Sering kita bicarakan mengapa kita tidak konsumsi beras sendiri tapi impor dari negara lain.”

Fakta bahwa tenaga kerja Sumsel sekitar 43% berpendidikan SD ke bawah dan 48% bekerja di sektor pertanian juga harus menjadi perhatian untuk meningkatkan kualitas SDM di Sumsel.

Pemprov Sumsel harus pula memastikan ketersediaan fasilitas publik yang optimal dan murah terkait dengan digitalisasi dan penggunaan internet secara luas. “Peningkatan kualitas SDM harus dipikirkan, sebab ke depan inovasi teknologi dan penggunaan digital-internet akan semakin luas dan menjadi andalan kita,” ujarnya.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait