FOKUS

Mengayomi, Kata Kunci yang Membedakan Polri dan Polisi AS

JAKARTA (tandaseru) – Sampai dengan Minggu (2/5) petang, CNN mencatat sudah 25 kota di 16 negara bagian di Amerika Serikat menerapkan jam malam. Aksi protes yang berujung kerusuhan dan penjarahan ini dipicu oleh kematian warga AS berkulit hitam George Floyd yang lehernya ditindih lutut seorang polisi kulit putih di Minneapolis hingga meninggal dunia.

Walaupun pelaku sudah ditahan, diproses hukum dan segera disidang, aksi protes dan kerusuhan tersebut menjalar hampir ke seluruh negara bagian di AS. Hal tersebut menuai respons berbagai kalangan.

Menurut Pakar Manajemen Komunikasi M. Fariza Y. Irawady, negara adidaya yang selalu menggaungkan Hak Asasi Manusia (HAM) masih memiliki pekerjaan rumah besar soal ras dan memiliki masalah besar dalam hubungan kepolisian dan masyarakat. Padahal di setiap mobil polisi AS tertulis slogan: to protect and to serve.

“Namun inilah yang membedakannya dengan polisi di Indonesia,” kata Fariza yang juga praktisi kehumasan.

Dalam pasal 30 ayat 4 UUD 1945 tertulis, Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, melayani dan mengayomi masyarakat serta menegakkan hukum.

Dalam pengamatannya, kata ‘mengayomi’-lah yang membedakan antara Polri Kepolisian AS. Mobil mobil polisi di Indonesia selalu tertulis Melindungi, Mengayomi, Melayani. Jadi peran pengayoman Polri ini masuk dalam konstitusi negara Republik Indonesia

“Kita melihat bahwa untuk mengimplementasikan kata ini (mengayomi), Polri lakukan effort ekstra keras. Jenderal Kapolri Idham Aziz berkali-kali mengingatkan kepada anggota Polri agar tidak menyakiti hati rakyat dengan perilaku-perilakunya,” ungkap Fariza.

Dia mencontohkan, upaya yang dilakukan sesuai dengan arahan Presiden Jokowi, Kapolri Idham Aziz selama pendemi menjalankan dengan menyalurkan bantuan tunai kepada 197.000 orang awak transportasi mitra Korps Lalu lintas (Korlantas) yang disebut Program Keselamatan 2020.

Korlantas meluncurkan program pelatihan keselamatan Covid-19 dan lalu lintas. Program ini bertujuan untuk menekan angka penyebaran virus hingga ke daerah. Awak transportasi Mitra Polri seperti supir truk, bus, taxi, kenek, ojek pangkalan, hingga tukang becak merasakan manfaat program ini serta mendapat bantuan Rp600.000 per bulan selama 3 bulan.

Selain itu, Kapolri memerintahkan setiap Polda dan Polres memberikan ratusan ton beras dan ribuan paket sembako. Arahan Kapolri dengan membagi sembako  pun terlihat dijalankan oleh Korlantas, Bareskrim dan semua unsur Polri. “Inilah bukti konkret dari pengayoman Polri yang tidak dimiliki oleh kepolisian AS,” ujar Fariza.

Empati dan Peduli

Fariza menyebutkan, terlihat setiap unit dari Mabes Polri, Polda hingga Polres membagi-bagi ribuan paket sembako seperti beras, minyak goreng, gula pasir, mie instan, hingga lauk-pauk dan sayur mayur dalam bentuk dapur umum di kantor- kantor polisi.

Langkah ini sebagai wujud konkret, bagaimana Polri memerankan sosok pelindung,  dan pengayom dan pelayan masyarakat yang punya empati dan rasa peduli terhadap kesulitan masyarakat saat ini. Upaya ini sekaligus menjadi poin penting bagi terbangunnya citra institusi yang positif.

Fariza menengarai bahwa kasus brutalitas seorang polisi AS kepada seorang warga AS lainnnya yang berkulit hitam mendorong Los Angeles, New York, Brooklyn dan sejumlah kota lain bergerak. Dari sisi komunikasi citra institusi menjadi sulit dan ambruk.

“Citra sebuah institusi itu ditentukan paling besar dipengaruhi oleh kepuasan publik. Jadi faktor terbesar pembentuk citra institusi adalah faktor kepuasan publik. Ini hasil riset disertasi doktoral saya selama 3 tahun. Baru setelah itu faktor kepuasan publik dipengaruhi oleh humas dan inovasi-inovasi yang dilakukan,” paparnya.

Ia pun mengapresiasi pernyataan Kapolri Jenderal Idham Aziz yang selalu mengungkapkan “Jadilah polisi yang bisa memberikan kepuasan kepada rakyat, jangan sakiti rakyat.”

Pakar komunikasi lulusan Prodi Ilmu Manajemen Universitas Padjadjaran ini menjelaskan bahwa pernyataan ini menjadi kata kunci citra institusi  Polri, tidak bisa hanya polesan program humas dan inovasi.

“Tapi program Polri yang benar-benar memberi kepuasaan kepada rakyat dan disebarluaskan oleh kehumasan yang mumpuni yang mampu membentuk citra institusi Polri,” kata Fariza.

Jadi setelah kerusuhan ini usai, tampaknya Kepolisian Amerika harus belajar konsep hubungan dengan masyarakatnya kepada Polri. “Tambahkan tugas pengayoman pada tugas pokoknya,” pungkasnya.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait