FOKUS

Pabrik Kosmetik Ilegal di Depok Digerebek, Omzet Hingga Rp 200 Juta Per Bulan

JAKARTA (tandaseru) – Ditresnarkoba Polda Metro Jaya menggerebek pabrik kosmetik ilegal di kawasan Jatijajar, Depok. Pabrik tanpa izin BPOM yang beroperasi sejak 2015 tahun ini meraup omzet hingga Rp 200 juta per bulan.

“Kosmetik ini mengandung bahan berbahaya dan tidak ada ijin edar dari BPOM RI. Ini peredarannya setiap hari bahkan selama sebulan keuntungannya hampir Rp 200 juta,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (18/2)

Ada 3 tersangka yang berhasil diamankan oleh polisi dengan peran yang berbeda-beda. Tersangka pertama berinisial NK yang disebut-sebut sebagai lulusan jurusan kimia di salah satu perguruan tinggi negeri.

 

“NK perempuan, perannya yang membeli bahan-bahan. Dia memang lulusan dari universitas terkenal d Jakarta ini fakultas kimia. Dia belajar dari situ juga pernah tahun 2002 atau 2005 pernah kerja di salah satu perusahaan kosmetik resmi di jakarta. Dari situ dia mulai belajar, punya ilmu dia,” jelas Yusri.

Tersangka kedua berinisial MF laki-laki dan lulusan farmasi. MF bertugas membuat kosmetik. Tersangka terakhir berinisial S yang bertugas mengantar pesanan kosmetik itu.

Singkat cerita, Yusri menyebut ketiga tersangka ini pernah bekerja di perusahaan kosmetik yang sama, namun mereka memilih membuka usaha baru yaitu membuat kosmetik secara ilegal. Mereka mengumpulkan modal per orang sebesar Rp 10 juta untuk membeli bahan-bahan kimia yang nantinya akan dibuat kosmetik.

“Kosmetik yang dijual jenisnya ada toner, ada pembersih muka, ada krim pagi, krim malam ada serum,” kata Yusri.

Setelah berhasil membuat kosmetik itu, mereka memasarkannya ke toko-toko kosmetik di Jakarta. Tidak hanya itu, mereka juga menjual kosmetik ilegal itu ke dokter-dokter kecantikan.

“Kemana saja dikirim atau di jual bahan kosmetik ilegal ini masih didalami, karena menurut keterangan yang bersangkutan mereka melempar ke toko kosmetik di Jakarta bahkan konsumennya ada dokter yang memang menerima barang ini, dokter kulit. Ini yang masih kita dalami semuanya,” kata Yusri.

Polisi masih mengembangkan kasus tersebut. Yusri menyebut kelompok ini sudah beroperasi sejak tahun 2015 lalu.

“Ini sudah berjalan dalam kurun waktu 4 tahun lebih oleh tiga pelaku,” tegas Yusri.

Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 196 subsider Pasal 197 junto Pasal 106 UU 36/2009 tentang kesehatan. Para tersangka terancam kurungan penjara selama 10 tahun dan denda Rp 1 miliar.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait