FOKUS

Pariwisata Indonesia Perlu PR, Mengapa?

By: Agung Laksamana

JAKARTA (tandaseru.id) – Saya pernah membaca cerita ini. Jose adalah pemilik sebuah restoran yang cukup terkenal di kota Madrid, Spanyol. Namun dia tidak berpendidikan. Suatu hari, putranya yang baru lulus dari universitas ternama kembali dan bergabung dengan bisnis keluarga ini.

Mulai bekerja, putranya berkata, “mengapa ayah habiskan begitu banyak uang untuk marketing restoran ini? Apakah Ayah tidak tahu krisis ekonomi sedang terjadi? Jangan buang uang!”

“Juga, mengapa kita habiskan dana untuk melatih para pelayan tentang etiket dan cara melayani customer? Ini benar-benar buang uang!”

Sang anak bahkan minta agar berhenti memasukkan ingredientsberkualitas ke dalam makanan karena harganya mahal dan merugikan margin. “Selama resesi, setiap uang harus dihemat. Turunkan kualitas bahan. Maksimalkan margin profit kita!” tegasnya lagi.

Jose percaya putranya yang berpendidikan tinggi ini pastilah benar. Dia berhenti memasarkan restorannya. Dia turunkan kualitas bahan makanan dan batalkan pelatihan para pelayan.

Yang terjadi selanjutnya, tamu yang datang berkurang bahkan tidak aware adanya restoran ini. Mereka mulai komplain dari kualitas makanan yang turun hingga pelayan tidak sopan seperti sebelumnya.Positive word of mouthdari customer-pun hilang.Walhasil, penghasilannya turun drastis.

Anda tahu apa yang Jose katakan? “Kamu benar anakku! Memang ada krisis ekonomi besar yang sedang terjadi! Terima kasih telah memberikan saran ini. Jika bukan karena kamu, pasti kita akan bangkrut!”

Ironis? Krisis Ekonomi adalah hal yang nyata tetapi respons kita terhadap krisis idealnya tidak seperti itu.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com