FOKUS

Pesan Letjen TNI (Purn) Rais Abin kepada Milenial: Jadilah Manusia Bernilai

JAKARTA (tandaseru) – Talkshow Nasional Is Me Goes to Campus kembali digelar secara live di Radio Persada dan Heartline 100.6 FM Karawaci dengan mengangkat tema Perdamaian Kunci Persatuan dan Kekuatan RIdan Dunia pada Senin (21/9).

Talkshow kali ini menghadirkan narasumber utama Letjen TNI  (Purn) Rais Abin selaku Ketua Umum Kehormatan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Legiun Veteran RI, dipandu oleh Frans Nikolas sebagai host acara.

Talkshow ini digagas oleh Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, bekerja sama dengan Yayasan Bentang Merah Putih, komunitas Nasionalisme Radikal (NAKAL), dan tandaseru.id.

Rais Abin, adalah salah satu anak bangsa yang ikut berjuang untuk meraih kembali kedaulatan Indonesia. Ia bahkan juga mengharumkan nama negara di kancah internasioal.

nasional is me LVRI 2

Rais Abin lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat, pada 15 Agustus 1926. Ia sebenarnya tidak memiliki latar belakang pendidikan militer. Setelah menamatkan sekolah dasarnya di kampung halamannya, Koto Gadang, ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Pertanian Menengah di Sukabumi, Jawa Barat sambil bekerja di sebuah perkebunan yang berlokasi di antara Purwakarta dan Cikampek.

Namun saat itu, melihat banyaknya pemuda Indonesia yang mengangkat senjata untuk mengusir pasukan Belanda, Rais Abin pun tergerak untuk ikut mendaftar di Markas Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di bagian operasi luar negeri.

Pada 1950, ia pun menjalani pendidikan militer di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD), sekarang  Seskoad. Selesai sekolah, Rais Abin berpangkat mayor. Pada 1962 ia mengikuti ujian sekolah perwira di luar negeri dan pada 1965, setelah menyelesaikan sekolahnya di Australia, pangkatnya naik menjadi kolonel.

Pada 1976 – 1979, ia dipercaya sebagai panglima United Nations Emergency Forces (UNEF) II, suatu pasukan perdamaian dari PBB terdiri lebih dari 4.000 tentara yang berasal dari berbagai negara, yaitu Australia, Austria, Kanada, Finlandia, Ghana, Indonesia, Irlandia, Nepal, Panama, Peru, Polandia, Senegal, dan Swedia.

UNEF II bertugas menjaga perdamaian antara Mesir dan Israel setelah perang Yom Kippur (Oktober 1973). Berkat lobi dan diplomasinya, Rais Abin berhasil mempertemukan Presiden Mesir, Anwar Sadat, dengan PM Israel, Menachem Begin.

Dilanjutkan dengan perundingan perjanjian damai di Camp David, dan diakhiri dengan penandatanganan perjanjian damai antara Mesir dan Israel. Yang dilakukan di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, disaksikan Presiden AS, Jimmy Carter, pada tahun 1979.

Rais Abin menjadi satu-satunya jenderal Indonesia yang memimpin ribuan tentara dari seluruh dunia tersebut.Usai tugas pasukan perdamaian UNEF II berakhir, Mayjen Rais Abin diperintahkan kembali ke Tanah Air.

Setelah menjalani penugasan di Markas Besar ABRI, Presiden Soeharto mengirimnya ke Malaysia sebagai duta besar. Pangkatnya pun dinaikkan satu tingkat menjadi letnan jenderal.

Ketika ditanya mengenai hal yang paling membanggakan selama masa hidupnya, Rais menjawab, “tanpa rasa sombong, kepercayaan dewan keamanan yang diberikan kepada saya, sampai sekarang, kepercayaan yang perlu dipertaruhkan oleh perwira Indonesia memimpin ribuan pasukan dari seluruh berbagai negara demi misi perdamaian dunia,”  ujarnya.

Dia adalah salah satu prajurit terhebat Indonesia. Sekarang di usia 94 tahun, dia masih memiliki sifat kepemimpinan militer itu. Dia mewakili para veteran Indonesia yang terlupakan dan menghidupkan kembali semangat mereka.

Kini di usianya yang telah sepuh, Rais Abin masih dipercaya menjadi Ketua Umum Legiun Veteran RI (LVRI). Ia terpilih kembali dalam Kongres XI LVRI dalam Kongres Nasional di Hotel Borobudur, Jakarta pada 17-19 Oktober 2017 dengan periode 2017-2022. Ia telah menjabat sebagai Ketua Umum DPP LVRI sejak tahun 2007. Tahun ini ia terpilih untuk yang ketiga kalinya.

Ia memberi pesan kepada pemimpin bahwa harus memiliki integritas tinggi dan jangan pernah takut akan gagal demi kepentingan Bangsa. “Meskipun kebijakan ditolak masyarakat menolak, namun bila itu merupakan pilihan terbaik menurut saya bukanlah suatu kegagalan bila dilaksanakan,” lanjut Rais.

Adapun pesan bagi para milenial di Indonesia adalah “tidak lama lagi kami pergi, kami berharap dari atas pusara kami akan lahir angkatan yang lebih sempurna, dan saat ini milenial adalah pelanjut dari tugas kami. Janganlah sekali kali melupakan sejarah, milikilah integritas dan jaga harga diri dengan memperjuangkan status agar tetap menjadi manusia bernilai,” pungkasnya.

 

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait