FOKUS

Polda Metro Naikkan Status Kasus Obat Covid-19 Anji dan Hadi Pranoto ke Penyidikan

JAKARTA (tandaseru) – Polda Metro Jaya telah menaikkan status kasus dugaan berita bohong alaias hoaks soal video obat herbal Covid-19 di Youtube musisi Erdian Aji Prihartanto alias Anji ke Adi Pranoto dari penyelidikan ke penyidikan.

“Perkara ini ditingkatkan dari penyelidikan naik ke penyidikan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (6/8).

Dinaikkannya status kasus dari penyelidikan ke penyidikan ini, disebut Yusri, setelah penyidik Polda Metro Jaya memeriksa sejulah saksi dan barang bukti yang ada. Setelah itu, penyidik melakukan gelar perkara dan akhirnya dinaikkannya status kasus tersebut.

“Dari bukti-bukti yang ada dan keterangan saksi-saksi baik itu pelapor setelah itu kita lakukan gelar perkara, pagi tadi kita gelar perkara dan memang udh memenuhi unsur persangkaan di Pasal 28 junto Pasal 45 A UU ITE,” ungkap Yusri.

Setelah kasus itu naik tingkat, artinya Polda Metro Jaya tinggal mencari tersangka dalam kasus itu. Selain mencari tersangka, Polisi saat ini juga tengah menyusun berkas perkara yang nantinya akan dilimpahkan ke jaksa untuk segera disidangkan jika kasus itu rampung.

Sebelumnya, musisi Erdian Aji Prihartanto alias Anji dan Hadi Pranoto dilaporkan oleh Ketua Cyber Indonesia, Muannas Alaidid ke Polda Metro Jaya berkaitan dengan konten YouTube tentang penemuan obat herbal virus corona (Covid-19).

Laporan itu teregister dengan nomor LP/4358/VIII/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ tanggal 3 Agustus 2020.

Pasal yang dilaporkan yakni tindak pidana bidang ITE dan atau menyebarkan berita bohong Pasal 28 ayat 1 Jo Pasal 45A Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 14 dan 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP.

Anji yang kekinian ramai menjadi perbincangan publik itu dilaporkan berkaitan wawancaranya dengan Hadi Pranoto untuk konten YouTube mengenai vaksin virus corona.

“Yang menjadi persoalan bahwa konten itu ditentang, pendapat yang disampaikan oleh si profesor itu ditentang, pertama adalah menyangkut tentang swab dan rapid test. Dikatakan di situ dia punya metode dan uji yang jauh lebih efektif dengan yang dia namakan digital teknologi, itu biayanya cukup Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu,” ucap Muannas.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait