FOKUS

Polisi Sita Uang Ratusan Juta saat Ungkap Pungli Bermodus Jasa Pengamana di Pelabuhan Tanjung Priok

JAKARTA (tandaseru.id) – Polda Metro Jaya baru saja mengungkap empat perusahaan yang melakukan pungli kepada sopir truk kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara dengan berbalut jasa pengamanan dengan menangkap 24 tersangka.

Dari empat perusahaan itu, polisi berhasil menyita uang sebesar Rp293 juta dari hasil penyewaan jasa pengamanan.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran merincikan dari perusahaan Bad Boys pihaknya menyita uang hasil pungli sebesar Rp9,1 juta. Perusahaan ini biasa melakukan pungutan liar terhadap 134 sopir truk kontainer setiap bulannya.

“Ada empat tersangka dari kelompok bad boy ditangkap,” kata Fadil di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (17/6).

Selanjutnya, perusahaan Haluan Jaya Prakasa. Dari perusahaan ini penyidik menyita uang hasil pungli sebesar Rp177 juta.

“Uang itu dipungut dari 141 perusahaan kontainer,” beber Fadil.

Perusahaaan ketiga yakni perusahaan bernama Sapta Jaya Abadi. Uang hasil pungli yang disita dari perusahaan ini berjumlah Rp24 juta.

“Kelompok ini setiap bulannya menguntip uang dari 23 perusahaan angkutan yang memiliki armada 529 unit,” jelasnya.

Terakhir, perusahaan Tanjung Raya Kemilau. Perusahaan ini biasa melakukan pungli terhadap 809 sopir kontainer setiap bulan.

“Uang yang disita dalam operasi ini adalah Rp82 juta,” pungkas Fadil.

Polda Metro Jaya sebelumnya menangkap 24 pelaku pungutan liar (pungli) alias asmoro terhadap sopir truk kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok. Mereka tergabung dalam empat perusahaan preman berkedok jasa keamanan.

Fadil menyebut empat perusahaan tersebut masing-masing bernama Bad Boys, Haluan Jaya Perkasa, Sapta Jaya Abdi dan Tanjung Raya Kemilau.

“Modus operandi seolah-olah mengamankan tapi sejatinya melakukan pemerasan kepada perusahaan angkutan kontainer dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok,” tuturnya.

Masing-masing perusahaan tersebut, kata Fadil, memiliki tanda stiker khusus. Stiker tersebut ditempelkan pada kendaraan yang telah memberikan setoran setiap bulan senilai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.

“Bagi mereka yang sudah membayarkan uang dengan dalih untuk pengamanan, maka mereka tidak akan diganggu dalam perjalanan itu ditandai dengan menempelkan stiker,” kata dia.

Keempat perusahaan ini juga memelihara atau menugaskan preman untuk mengusik dan mengganggu kendaraan-kendaraan yang tidak memiliki stiker. Tujuannya, agar mereka mau menggunakan jasa keamanan yang ditawarkan.

“Untuk memuluskan aksinya kelompok ini menyuruh preman yang disebut asmoro yang ada di jalan melakukan tindakan kriminal seperti merampas ponsel, mencuri, memeras dengan modus operandi menjual aqua,” paparnya.

Atas perbuatannya 24 preman ini telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dijerat dengan Pasal 368 KUHP dengan ancaman 9 tahun penjara.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com