FOKUS

Resmi Diserahkan ke Kejagung, Djoko Tjandra Ditahan di Rutan Salemba Cabang Mabes Polri

JAKARTA (tandaseru) – Polri resmi menyerahkan buronan kasus korupsi hak tagih (cessie) Bank Bali, Djoko Tjandra ke Kejaksaan Agung (Kejagung) RI. Penyerahan ini, dilakukan di Bareskrim Polri, Jakarta pada Jumat (31/7).

Dalam penyerahan malam ini, turut hadir Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit, Kepala Rumah Tahanan Salemba Renharet Ginting, dan Jampidsus Kejaksaan Agung Ali Mukartono.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri, Irjen Argo Yuwono mengatakan, pihak-pihak terkait yang hadir malam ini turut menandatangani surat berita acara. Djoko Tjandra pun ikut mendatangani berita acara tersebut.

“Hari ini di Bareksrim Polri ada penyerahan terpidanankasus korupsi bank bali Djoko Tjandra. Malam ini hadir Kabareksrim dan Kajati Jakarta dan Kepala Rutan Salemba, akan menandtanngani surat berita acara,” kata Argo di Bareskrim Polri, Jumat (31/7).

Sementara itu, Komjen Listyo Sigit selaku Kabareskrim mengatakan, Djoko Tjandra akan ditahan di Rutan Cabang Salemba cabang Bareskrim Polri. Dia mengatakan, hal tersebut dilakukan guna mempermudah Polri untuk melanjutkan penyelidikan dan pemeriksaan lanjut terhadap Djoko Tjandra.

”Saat ini yang bersangkutan ditiitpkan di Rutan Cabang Salemba di Mabes Polri. Ini tentunya memudahkan bagi Bareskrim Polri untuk melanjutkan penyelidikan dan pemeriksaa lebih lanjut terhadap saudara Djoko Tjandra,” kata Listyo.

Untuk diketahui, Joko merupakan terdakwa kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali senilai Rp904 miliar yang ditangani Kejaksaan Agung. Pada 29 September 1999 hingga Agustus 2000, Kejaksaan pernah menahan Joko. Namun hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan ia bebas dari tuntutan karena perbuatan itu bukan perbuatan pidana melainkan perdata.

Pada Oktober 2008, Kejaksaan mengajukan peninjauan kembali (PK) terhadap kasus Joko ke Mahkamah Agung. Pada 11 Juni 2009, Majelis Peninjauan Kembali MA menerima PK yang diajukan jaksa. Majelis hakim memvonis Joko 2 tahun penjara dan harus membayar Rp 15 juta. Uang milik Joko di Bank Bali sebesar Rp 546,166 miliar dirampas untuk negara. Imigrasi juga mencekal Joko.

Dalam hal ini Djoko Tjandra berhasil mengobok-obok Polri untuk membantu pelariannya yang mengakibatkan tiga Jenderal Polisi dicopot oleh Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis dari jabatannya.

Tiga Jenderal tersebut adalah Irjen Pol Napoleon Bonaparte, Brigjen Pol Nugroho dan Brigjen Pol Prastijo Utomo terkait penerbitan surat jalan, surat bebas Covid-19, dan soal tercabutnya red notice terhadap Djoko Tjandra yang dikeluarkan Polri. Dalam hal ini, Brigjen Prastijo sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Selain dari Polri, Djoko Tjandra juga membuat Lurah Grogol Selatan Asep Subahan dicopot setelah geger kasus pencetakan e-KTP kilat buron Djoko Tjandra. Kasus ini berawal saat Djoko Tjandra diketahui datang ke Kelurahan Grogol Selatan untuk membuat e-KTP pada 8 Juni 2020.

Asep mengaku awalnya tidak tahu bila Djoko Tjandra merupakan terpidana kasus hak tagih (cessie) Bank Bali. Pembuatan e-KTP Djoko Tjandra selesai dalam waktu 1 jam 19 menit.

Selain itu, Kejagung mengumumkan hasil pemeriksaan terhadap jaksa Pinangki terkait dugaan pertemuan dengan Djoko Tjandra. Kejagung memutuskan untuk membebastugaskan Pinangki dari jabatannya.

“Wakil Jaksa Agung telah memutuskan, sesuai keputusan Wakil Jaksa Agung Nomor Kep/4/041/B/WJA/07/2020 tanggal 29 Juli 2020 tentang penjatuhan hukuman disiplin tingkat berat berupa pembebasan dari jabatan struktural. Artinya dinon-job-kan kepada terlapor (jaksa Pinangki),” kata Kapuspenkum Kejagung, Hari Setiyono, di kantornya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (29/7).

Kasus ini pun juga menyeret pengacara dari Djoko Tjandra yakni Anita Kolopaking. Anita sebelumnya juga sempat dilarang untuk keluar negeri oleh Bareskrim Polri.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait