FOKUS

Sembilan Pendemo Hardiknas Ditangkap Polisi, Ini Alasannya

JAKARTA (tandaseru.id) – Sebanyak sembilan orang pendemo dalam aksi memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di depan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) ditangkap. Kini mereka telah ditetapkan sebagai tersangka.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, sembilan orang itu ditangkap lantaran tak mengindahkan peringatan yang diberikan pihak kepolisian dalam aksi demo tersebut.

Yusri menyebut aparat telah memberikan tiga kali peringatan terkait pelaksanaan demo dan juga penerapan protokol kesehatan.

“Kami sudah tetapkan sebagai tersangka. Kesembilan orang dengan perannya masing-masing, dan ini berproses. Negara kita negara hukum, dan harus taat kepada hukum,” tutur Yusri di Polda Metro Jaya, Selasa (4/5).

Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, sembilan orang itu tidak ditahan dan telah dipulangkan. Sebab, ancaman hukumannya hanya empat bulan penjara.

“Kami persangkakan mereka-mereka semuanya di undang-undang tentang wabah penyakit di undang-undang nomor 4 di pasal 14, kemudian kami persangkakan juga di pasal 216 KUHP, di pasal 218 KUHP. 3 kali kami sampaikan (peringatan), tidak diindahkan,” tuturnya.

Yusri juga membantah soal tuduhan bahwa kesembilan orang itu tidak mendapatkan pendampingan hukum saat proses pemeriksaan.

“LBH saja ada di situ kok, bahkan menawarkan diri menyampaikan bahwa dia jadi pengacara, didampingi pada saat diperiksa,” ucap Yusri.

“Jadi ini yang perlu kami juga ingatkan. Orang2 yang tidak mengerti, mencari panggung, tidak mengerti kemudian terus berkoar-koar di media sosial. Didampingi mereka, dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka pun didampingi,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Yusri menegaskan bahwa tak ada larangan untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Namun, lanjutnya, hak itu juga harus disertai dengan kesadaran bahwa saat ini masih dalam situasi pandemi Covid-19.

“Menyampaikan pendapat di muka umum boleh, ada aturan perundang-undangan, tetapi hak untuk mengerti kewajiban untuk sehat ini sekarang ini, situasi pandemi Covid-19 ini juga harus dimengerti,” ujarnya.

Sebelumnya, kabar penetapan sembilan orang jadi tersangka itu diungkapkan oleh Kepala Divisi Advokasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Nelson Nikodemus.

“Sudah dibebaskan, tapi ditetapkan sebagai tersangka,” kata Nelson saat dihubungi, Selasa (4/5).

Menurut Nelson, tak hanya melakukan penangkapan. Namun, juga disertai pemaksaan hingga penyitaan mobil komando milik FSBN-KASBI.

Bahkan, kata Nelson, polisi juga memaksa massa untuk menghapus video aksi hardiknas, dan mengancam massa aksi akan diikuti sampai pulang.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com