FOKUS

Jangan Terlalu Patah Hati, Bisa Bahayakan Jantung Anda!

JAKARTA (tandaseru) – Mungkin hampir semua orang merasakan patah hati. Tapi tahukah kalau sindrom patah hati berbahaya untuk jantung?

Tidak semua orang  mampu menguasai rasa patah hati dalam hidupnya. Namun, jika Anda patah hati, maka akan merasakan sakit hati, sedih berkepanjangan dan tidak punya semangat, Anda juga bisa mengalami sindrom patah hati yang berbahaya bagi kesehatan jantung.

Kenapa sindrom patah hati berbahaya?

Sindrom patah hati atau dalam istilah kedokterannya kardiomiopati takotsubo, bisa terjadi akibat stres ekstrem yang menghancurkan hati, seperti meninggalnya orang tercinta, putus cinta, kehilangan pekerjaan atau tekanan dalam mejalani perawatan medis tertentu.

Gejalanya menyerupai serangan jantung, hal yang paling sering dirasakan adalah nyeri di dada dan sesak napas. Tetapi, mual, jantung berdebar bahkan muntah juga dapat terjadi.

Penelitian pun menyebut sindrom patah hati ini akan lebih sering terjadi pada wanita. Para peneliti dari MD Anderson Cancer Center menjelaskan, ketika jantung seseorang mengalami patah hati, ruang pompa utama di ventrikel kiri akan melemah.

Hal tersebut menyebabkan rasa sakit dan sesak napas, yang akan menimbulkan komplikasi serupa dengan seseorang yang merasakan serangan jantung.

Para peneliti tersebut pun berpikir hal itu disebabkan oleh membanjirnya hormon yang dihasilkan selama stress, yang membuat jantung jadi tersengat.

PATAH HATIPenyakit yang bisa disembuhkan!

Walau memang berbahaya, namun Jeffrey Decker, MD, kepala bagian kardiologi klinis mengatakan sekitar 95 persen pasien dapat pulih dalam 1 hingga 2 bulan, dengan tingkat kematian kurang dari 3 persen.

Orang yang menderita sindrom patah hati ini akan mendapat obat yang sama seperti digunakan untuk mengobati penderita gagal jantung kongestif agar mendukung dan memperkuat jantungnya.

Tetapi, hal tersebut berlaku untuk orang yang punya komplikasi. Pasalnya, dia bisa mengalami syok kardiogenik, yang terjadi saat jantung tiba-tiba tak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh atau gagal jantung mendadak dan sangat parah.

Penderita ini juga lebih mungkin untuk meninggal dalam 5 tahun usai kejadian dibandingkan orang yang tidak memiliki masalah komplikasi.

Jadi, akan lebih baik jika Anda sebisa mungkin terhindar dari sindrom patah hati, dengan tahu cara mengelola stres dengan benar, sebelum Anda harus berhadapan dengan tahap yang ‘menyakitkan’ dan membahayakan kesehatan jantung.

Sudah tahu sekarang sindrom patah hati berbahaya? Mulailah menata hati dan jika sedih tak perlu sedih berlebihan, hidup harus terus berjalan!

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait