FOKUS

Soal Obat Corona, Anji dan Hadi Pranoto Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

JAKARTA (tandaseru) – Cyber Indonesia melaporkan musisi sekaligus youtuber Erdian Aji Prihartanto alias Anji dan Hadi Pranoto terkait dengan konten di akun youtube Anji soal penemuan obat herbal untuk mengatasi virus corona atau Covid-19 ke Polda Metro Jaya pada Senin (3/8).

Laporan terhadap keduanya teregister dengan nomor LP/4538/VIII/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ, tanggal 3 Agustus 2020. Terlapor disangkalan melanggar Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Jo Pasal 45a Undang-Undang RI Nomor 19 tahun 2016 dan atau Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

“Dua-duanya (kita laporkan). Pertama Anji, karena sebagai pemilik akun yang menyebarkan dan Hadi Pranoto yang menyatakan berita bohong itu,” kata Ketua Umum Cyber Indonesia, Muannas Alaidid di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (3/8).

Muannas mengatakan, konten youtube yang ditayangkan Anji pada Sabtu (1/8) menuai polemik. Pendapat profesor yang dihadirkan dalam konten itu ditentang oleh akademisi, ilmuwan, ikatan dokter Indonesia (IDI), Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, influencer dan masyarakat luas.

Menurut Muannas, ada sejumlah pernyataan Hadi yang menuai polemik. Pertama, soal rapid dan dan swab test virus korona (covid-19). Hadi mengaku memiliki metode dan uji yang jauh lebih efektif dan harga yang murah Rp10 hingga Rp20 ribu, yakni menggunakan teknologi digital.

“Nah, ini kan sangat merugikan pihak rumah sakit, sebagaimana kita ketahui bahwa rapid dan swab itu bisa menyentuh ratusan bahkan jutaan,” ujar Muannas.

Dia tak ingin masyarakat memercayai Hadi. Kepercayaan itu bisa menimbulkan anggapan bahwa ada pihak yang mengambil keuntungan dari rapid dan swab test tersebut.

“Itu menyebabkan berita bohong dan menimbulkan kegaduhan, polemik dari berbagai kalangan. Nah itu yang saya kira profesor Hadi Pranoto itu dapat diminta pertanggungjawaban berdasarkan Pasal 14, Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang larangan berita bohong,” ungkap Muannas.

Sementara Anji, lanjut Muannas, bisa dijerat Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Menurut Muannas, konten yang dimuat dalam youtube Anji mengandung berita bohong.

Muannas menyebut, klaim Hadi soal penemuan obat covid-19 telah dibantah IDI. Bahkan, kata dia, Menkes Terawan menganggap bahwa penemuan itu tidak jelas. Dia meyakini, Anji telah menyebarkan berita bohong yang menimbulkan keresahan dan kontraproduktif.

“Jangan sampai masyarakat percaya bahwa obatnya sudah dianggap ketemu, kemudian orang tidak menggunakan masker, tidak physical distancing atau tidak mengikuti proses. Sementara pemerintah berjuang habis-habisan untuk menurunkan curva covid-19 yang semakin menimbulkan banyak korban,” tutur dia.

Muannas meminta kepolisian menyelidiki dugaan berita bohong tersebut. Dia telah memberikan barang bukti berupa transkrip percakapan wawancara Anji dengan Hadi Pranoto, tangkapan layar wawancara di youtube dan satu buah flasdisk berisi link video sebagai bahan penyelidikan polisi.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait