FOKUS

Teknologi Digital pada Layanan Medis Perlu Mitigasi Risiko Keamanan Data

JAKARTA (tandaseru) –Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Semuel A. Pangerapan menyebutkan penerapan teknologi digital untuk layanan telemedis akan lebih memudahkan masyarakat dalam mendapatkan layanan kesehatan.

Apalagi di daerah tersebut tidak memiliki dokter ahli. Namun, Dirjen Aptika mengingatkan akan pentingnya mitigasi risiko atas keamanan data.

“Penerapan IT memberikan berbagai jenis layanan kesehatan secara jarak jauh dalam rangka memberikan kesehatan individu dan masyarakat. Dengan adanya teknologi ini para dokter bisa mengakses dan mendapatkan layanan yang memadai lewat aplikasi chat, video call, tentang konsultasinya dan berbagai macam. Ini adalah kemudahan-kemudahan,” ujar Dirjen Semuel saat menjadi pemateri dalam Diskusi Publik Telemedisin untuk Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan, dari Ruang Serbaguna Kementerian Kominfo, Jakarta, Sabtu (22/08).

Dirjen Aptika menegaskan hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pada saat menggunakan teknologi dapat memberikan rasa aman terhadap pengguna.

“Data-data yang kita kumpulkan, itu memberikan rasa aman bagi para pasien yang memberikan data-data itu pada kita untuk dikelola. Ini adalah aspek yang perlu diperhatikan,” tegasnya.

Menurut Semuel, hal itu penting dilakukan mengingat saat ini masih banyak terjadi pencurian data, kebocoran data, karena belum dilakukan mitigasi yang mendalam terhadap risiko yang ditimbulkan.

“Prinsipnya begini, pada saat kita memutuskan masuk ke ruang digital, maka kita harus memposisikan diri kita vulnerable. Untuk itu kita perlu membangun kekuatan karena di ruang digital sifatnya terbuka guna memudahkan,” jelasnya seraya menambahkan dalam keterbukaan tersebut perlu memitigasi satu per satu risikonya dalam pemrosesan data pribadi pengguna.

Dalam memitigasi risiko untuk menjaga keamanan data pengguna, Dirjen Aptika menekankan tiga faktor penting yang perlu diperhatikan layanan telemedis. Tiga hal tersebut meliputi data, sistem, dan sumber daya manusia (SDM).

“Data pun perlu diklasifikasikan. Karena, pada saat data-datanya kita kumpulkan seperti data registrasi, termasuk nama, alamat, jenis kelamin dan tanggal lahir, data konsultasi, seperti riwayat dan diagnosa penyakit, serta data lainnya, seperti nomor kartu kredit atau rekening dalam proses pembayaran, itu perlu dipisahkan,” jelasnya.

Menurut Dirjen Semuel, mitigasi data ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya serangan siber yang mengakibatkan kebocoran data, sehingga pelaku tidak bisa mendapatkan data pengguna secara utuh.

“Karena pada saat itu terjadi, suatu kebocoran atau ada serangan dari luar yang mengambil data-data ini, karena dia tidak memiliki data itu secara lengkap, maka data itu tidak memiliki nilai ekonomisnya,” paparnya.

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com