FOKUS

3 Tempat Wisata Dengan Kisah Kontroversial, Sudah Pernah ke Sana?

Tandaseru – Sepanjang 2018 ini ada sejumlah lokasi yang menimbulkan cerita kontroversial di tengah masyarakat. Termasuk 3 tempat wisata dengan kisah kontroversial ini!

Dunia pariwisata di Indonesia ternyata tak luput dari kisah kontroversial sepanjang 2018 ini, berikut ini ada beberapa lokasi wisata yang patut dikunjungi sekalipun sempat terjadi kontroversi.

Rabbit Town salah satu tempat wisata dengan kisah kontroversial!

Kurang lebih bulan Maret lalu, media sosial diramaikan dengan berita tentang plagiat yang dilakukan lokasi wisata Rabbit Town.

Baru dua bulan buka, destinasi wisata selfie yang ada di Bandung tersebut dikatakan menjiplak sejumlah ikon instalasi seni kontemporer dari seniman Internasional.

Seperti spot Love Light, Ice Cream Cone dan Sticker Room. Semuanya dituding sebagai plagiat dari County Museum of Art di Los Angeles dan beberapa instalasi terkenal lainnya.

Spot Ice Cream Cone yang mirip dengan instalasi di The Museum of Ice Cream Los Angeles serta sticker room yang serupa dengan karya seniman Yayoi Kusama juga jadi sorotan.

Kisah kontroversial itu mulai ramai diperbincangkan usai Ario Kiswinar mengunggahnya di media sosial. Bahkan berita tentang Rabbit Town plagiat telah sampai pada pihak Museum of Ice Cream di Los Angeles.

Parahnya lagi, hal tersebut juga diberitakan oleh media luar negeri. Namun akhirnya, Ferdi Chandra General Manager Rabbit Town menanggapi berita tersebut dan menyatakan pihaknya hanya terinspirasi.

Untuk menindaklanjuti, Rabbit Town akan memasang klaim di setiap karya yang terinspirasi itu.

Pabrik gula Colomadu

Tempat wisata dengan kisah kontroversial lainnya adalah objek wisata bekas Pabrik Gula Colomadu yang berlokasi di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Bangunan bersejarah ini sengaja dipugar untuk dijadikan area wisata, namun dibalik kemegahannya ada cerita kontroversi terkait status kepemilikan kawasan tersebut.

Pada Maret lalu, pihak Pura Mangkunegaran melayangkan protes kembali pada Pemerintah terkait revitalisasi kawasan pabrik gula tersebut.

Pihak Mangkunegaran meyakini lahan pabrik itu masih ada di bawah kepemilikannya. Sejak dibangun oleh KGPAA Mangkunegara IV pada 1861, pihaknya tak merasa pernah menyerahkan lahan itu pada siapa pun.

Memiliki sertifikat yang dipegang PTPN IX, tertulis tanah tersebut bekas milik Mangkunegaran. Pihak Mangkunegaran pun mengungkapkan sempat menjalankan regulasi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 3 dan 4 tahun 1946.

Berisi seluruh pabrik serta usaha pertanian milik Kasunanan dan Mangkunegara dikuasai negara; bukan tanahnya.

The Lost World Castle

Peristiwa kontroversial lainnya merupakan kasus yang terjadi sejak awal 2017 lalu, yaitu pembangunan The Lost World Castle di Jogja yang tak lengkap perizinannya.

Bukan itu saja, kawasan wisata tersebut juga dibangun pada Kawasan Rawan Bencana III erupsi Gunung Merapi. Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman, Djokolelana Juliyanto mengungkapkan lokasi The World Castle rawan diterpa awan panas, guguran batu, aliran lava serta hujan abu lebat.

Pendirian objek wisata itu pun melanggar sejumlah aturan sekaligus, yaitu Perpres tentang Perencanaan Tata Ruang dan Perbup tentang Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi.

Memang sudah ada permohonan pembangunan dari pihak pengelola sekalipun ditolak mereka tetap masih berusaha melakukan komunikasi agar dilegalkan. Namun, hingga Maret 2018, status lokasi wisata itu masih ilegal.

Bagaimana, ada yang berani ke tempat wisata dengan kisah kontroversial tersebut akhir tahun nanti?

Dapatkan berita terbaru langsung dari Tandaseru.id

Kumpulan Berita Terkait